bahan ajar pembiakan vegetatif ( pertemuan III & IV)

2.6.1. Pemilihan bahan stek.

Pemilihan bahan stek sangat tergantung dari kondisi fisiologis dari tanaman stock dan  faktor fisiologi tanaman . Terdapat banyak bukti bahwa nutrisi dari tanaman stock memberikan pengaruh yang besar pada perkembangan perakaran dan tunas pada stek

Bahan stek dapat berupa:

  • Stek batang
  • Stek akar:

v      Meristem primer :  Bahan untuk stek diambil dari akar yang memanjang kesamping, khususnya dari meristem primer laten, yaitu sel-sel yang belum mencapai  puncak differesiasi.

v       Meristem sekunder : bahan untuk stek diambil dari sel dewasa yaitu bagian akar yang sudah menghasilkan anak-anak akar.

  • Stek daun:

v      Meristem primer :  kelompok sel-sel yang merupakan turunan langsung dari sel-sel embryonik yang masih melakukan proses pembelahan dan terlibat langsung dalam proses metabolik.

v      Meristem sekunder:  kelompok sel-sel yang telah berdifferensiasi dan telah berfungsi pada beberapa sistem jaringan dewasa dan masih melakukan aktifitas merismatik. Contoh pada tanaman Begonia rex. , primordia baru berasal dari meristem sekunder yang berasal dari sel dewasa yang berada pada dasar helai daung dan tangkai daun.

  • Stek  mata tunas
  • Stek pucuk
  • Stek  umbi

v     Umbi palsu

v     Umbi lapis

v     Umbi batang

v     Umbi akar

v     Akar batang

  1. Stek Batang.

Disebut stek batang karena bahan tanamnya diambil dari batang atau cabang pohon induk. Beberapa tanaman yang dapat diperbanyak dengan stek batang adalah kedongdong, jambu air, markisa, delima, jeruk, advokad, dan anggur, serta tanaman hias seperti bogenvil, kembang sepatu, mawar, dan melati.

Stock untuk stek batang harus berasal dari pohon induk yang sehat. Pilih cabang yang telah berumur satu tahun, berdaun hijau tua, berkulit coklat  muda, dan jika kulit arinya dikelupas masih terlihat berwarna kehijauan. Cabang seperti ini memiliki kandungan hormon pertumbuhan  seperti auxin yang tinggi, juga nitrogen dan karbohidrat yang tinggi. Keadaan ini akan mempercepat tumbuhnya akar.

Cabang yang terlalu tua tidak baik  untuk bahan stek karena sangat sulit untuk menumbuhkan akar  karena alasan fisiologis, yaitu regenerasi dari sel yang lambat. Sementara itu cabang yang terlalu muda akan cepat layu dan mati kekeringan karena penguapannya barlangsung cepat.

  1. Cara
  • Ø Cabang stek minimal berdiameter sekitar 1 cm, di ambil dari bagian tengah cabang, kira-kira 0,5 cm dibawah mata tunas yang paling bawah dan 1 cm dari mata tunas paling atas.
  • Kemudian cabang dipotong-dipotong sepanjang 15-20 cm, dengan 3-4 mata tunas disetiap potongan.
  • Pemotongan cabang dilakukan pada pagi hari dengan menggunakan gunting setek atau pisau yang tajam. Jika pisau tidak tajam, permukaan potongan menjadi kasar, memar, dan rusak sehingga sulit membentuk kalus, untuk menutup luka.

Gambar  3. Batang stek  yang lurus yang harus diambil dari pohon induk, setiap bagian dengan 3-4 tunas.

Gambar 4. Stek bertumit, perlu diratakan agar kalus cepat terbentuk.

Gambar 5. Stek bermartil, dengan mengikutkan sebagian batang tanaman induk.

  1. C. Faktor penghambat pada pertumbuhan stek batang

Kadang-kadang setek batang yang ditanam sulit membentuk akar, sehingga perlu diberikan perlakuan khusus, misalnya

  • Mengerat batang.

Pengeratan dilakukan agar cabang yang disetek memiliki kandungan karbohidrat dan auksin yang cukup untuk membentuk akar. Penegeratan dilakukan 1-2 bulan sebalum cabang dipotong. Caranya : buat keratan melingkar selebar 2-3 cm pada jarak 30-40 cm dari ujung cabang. Kulit cabang pada batang keratan dibuang, lalu dibiarkan selam 1-2 bulan sampai muncul tonjolon yang menandakan telah terjadi penumpukan karbohidrat dan auksin.

  • Mengetiolasi batang.

Etiolasi dilakukan dengan membungkus bagian cabang setek dengan kertas, plastik atau kain. Warna pembungkus sebaiknya hitam agar cahaya matahari tidak dapat menembus kulit cabang yang dibungkus sehingga zat klorofil hilang dan zat auksin berkumpul. Perlakuan ini membuat cabang cepat menumbuhkan akar setelah ditanam.

  • Menggunakan  Hormon tumbuh

Secara alami tanaman menghasilakn hormon tumbuh sendiri, yaitu auksin. Namun kadang-kadang jumlahnya tidak mencukupi untuk membantu pembentukan akar. Oleh karena itu, perlu tambahan auksin dari luar untuk memacunya. Hormon auksin yang digunakan dapat berupa IBA, IAA, atau NAA. Hormon-hormon ini berbentuk kristal sehingga harus dilarutkan terlebih dahulu kedalam larutan alkohol.

Pemberiannya bisa dilakukan dengan cara :

  • Celup cepat

Bahan pelarut yang digunakan adalah alkohol 50% dengan konsentrasi tergantung jenis hormon yang digunakan. Jika hormon yang digunakan IAA, konsentrasinya 500-1000 ppm atau 500-1000mg IAA/ liter pelarut. Jika yang digunakan NAA, sentrasinya 5000 ppm atau 5 g/l pelarut. Sementara itu, jika hormon yang digunakan IBA, konsentrasinya 5000-10000 ppm atau 5-10 g/l pelarut. Setelah itu batang-batang setek disatukan dan 2 cm bagian pangkalnya dicelupkan selam 5-10 detik kedalam larutan hormon.

  • Perendaman

Hormon auksin dilarutkan terlebih dahulu kedalam alkohol 95%, lalu ditambahkan air sesuai konsentrasinya yang dibutuhkan. Umumnya untuk setek batang tanaman buah, konsentrasinya 100 ppm dengan lama perendaman 1-2 jam. Sementara itu, untuk tanaman yang gampang berakar seperti beberapa jenis tanaman hias, konsentrasinya hanya 5 ppm dengan lama perendaman 1- 5 menit.

  • Bentuk Tepung ( penepungan)

Tepung dibuat dengan melarutkan hormon auksin kedalam alkohol 95% dengan konsentrasi 1000-5000 ppm, lalu dimasukkan 1 kg tepung bedak dan diaduk. Campuran tersebut dikering-anginkan sampai seluruh alkohol menguap. Jika tak ingin repot membuatnya, kita dapat menggunakan hormon tumbuh bebrbentuk tepung siap pakai seperti Rhizopon A yang mengandung NAA, Rhizopon B yang mengandung IAA, atau Rootone- F yang mengandung empat jenis tersebut.

  • ØCaranya , bagian pangkal setek dibasahi dengan air, lalu disentuhkan kedalam tepung dan diketuk-ketuk agar tepung  yang melekat tidak berlebihan. Cara lain, Rootone-F yang berbentuk tepung dicampur dulu sedikit dengan air sampai mencapai pasta, lalu pangkal setek dicelupkan kedalam pasta tersebut.
  • ØSetelah di beri hormon tumbuh, setek batang siap disemai didalam kotak kayu, pot atau bedengan. Media semai yang digunakan dapat berupa pasir atau campuran pasir dan sekam padi dengan perbandingan 2: 1 atau 3: 1 atau campuran pasir, lumut, dan tanah gembur denga perbandingan 2 : 1:1. Ketebalan media pada wadah semai dan bedengan 25-30 cm dan dilapisi pasir setebal 5 cm. Stek ditanam dengan menancapkan bagian pangkal setek kedalam media sampai hanya tersisa dua mata tunas di permukaan tanah. Posisi setek sebaiknya agak miring sekitar  45%. Jika setek masih memiliki daun, posisinya daunnya harus berada diatas permukaan media. Setelah itu media disiram kembali.
  • ØUntuk menjaga kelembaban agar tetap tinggi, permukaan media persemaian ditutup dengan plastik transparan. Jika penyemaian dilakukan dikotak akyu atau pot, wadah cukup ditutup dengan lembar plastik bening. Sementara itu, jika penyemaian dilakukan dibedengan, buatkan sungkup dari plastik transparan yang menutupi seluruh permukaan bedengan, lalu bedengan disiram dengan air setiap hari. Biasanya setek batang mulai berakar setelah 2-3 bulan disemai. Batang setek yang tidak tumbuh sebaiknya dibuang. Setelah akarnya terlihat berwarna coklat dan cukup banyak, setek dapat dipindah ke polibag untuk dibesarkan.
    • Ø.

Gambar 6. Stek batang (  Agung, 2007)

Gambar  7 .Stek batang pada aglaonema. ( Zainal, 2007)  .

Gambar 8.  Teknis pelaksanaan stek batang pada  Adenium ( Syah, 2005).

Gambar 9.   Stek  batang pada Anthurium

Gambar 10. Pepaya hasil perbanyakan dengan stek

Gambar 11. Teknis pelaksanaan  stek pada pepaya

. .

Gambar 12. Stek  batang  pada  Pachypodium (tanaman yang berbatang lunak)        (Raharjo, 1999).

Gambar 13. Perbanyakan Ara dengan stek ( Rosy, 2006).

.

Gambar 14. Perbanyakan tanaman dengan stek batang pada Nephentes sp

( Hanni, 2006).

Gambar 15 .Perbanyakan tanaman dengan stek batang pada daun jahit.

( Maudy, 1990).

B. Stek  Akar

Untuk perbanyakan dengan akar, potongan akar sebaiknya diambil dari tanaman stock yang masih muda, dan dari tumbuhan yang sehat.  Hal ini disebabkan pada tanaman yang masih muda , masih pada fase juvenil adalah tanaman tersebut masih dalam proses pertumbuhan aktif, regenerasi dari sel masih tinggi sehingga regenerasi dari sel akar  ba ru juga akan tinggi.

Regenerasi tanaman baru dari stek akar sangat tergantung dari tanaman, juga dengan faktor lingkungan. Walaupun tidak memiliki mata tunas, akar dapat memunculkan tunas,   tunas dapat muncul di dinding atau dibekas potongannya yang telah muncul kalus.

Menurut  Taylor (  1976), akar yang terluka akan merangsang terbentuknya kalus, pada waktu yang hampir bersamaan juga merangsang terbentuknya akar adventif,   dan selanjutnya baru muncul pucuk pertama. Pada beberapa kasus akar adventif berkembang tidak berasal dari akar yang mengalami pelukaan tetapi dari bagian akar yang lain. Tunas baru juga akan berkembang dari akar  yang lain, yang telah ada sejak akar tersebut di stek.

Pada stek akar sangat perlu diperhatikan polaritas yang benar waktu penanaman, untuk menghindari penanaman terbalik. Ujung proximal ( paling dekat dengan mahkota tanaman), dapat dibuat dengan potongan tegak lurus dan ujung distal ( yang jauh dari mahkota) dengan potongan miring. Ujung proximal dari stek akar harus selalu berada diatas.  Pada waktu penanaman, tancapkan stek secara vertikal sehingga bagian atas berada pada level permukaan tanah. ( secara horizontal).

Tanaman yang dapat diperbanyak dengan cara ini cukup banyak, misalnya tanaman yang berbentuk semak, tanaman yang merambat, tanaman tahunan, sampai tanaman dataran tinggi. Misalnya, cemara, jambu biji, jeruk keprok, sukun dsb.

Bahan stek akar harus berupa akar lateral, yaitu akar yang tumbuh kearah samping sejajar dengan permukaan tanah. Sebaiknya pilih akar muda yang berukuran 1 cm atau sebesar pensil karena lebih cepat memunculkan akar dibandingkan dengan akar tua.

Untuk tanaman besar berbentuk semak atau pohon, pengambilan akar dilakukan dengan melubangi tanah sampai ke akar-akarnya kelihatan. Kemudian ambil akar yang diperlukan, lalu lubang ditutup kembali dengan tanah. Sementara itu, untuk tanaman kecil, pengambilan akar dilakukan dengan mencabut tanaman tersebut, lalu memotong akar yang diperlukan. Setelah itu, tanaman ditanam kembali.

Untuk mendapatkan bahan stek akar dalam jumlah banyak adalah sulit dan memerlukan biaya yang besar, sehingga pada beberapa tanaman dapat  direncanakan dan dilakukan ketika masih dipembibitan yaitu ketika tanaman digali, dapat dilakukan trimming ( memotong akar) , pada proses pemindahan tanaman.

Teknik stek akar dilakukan untuk memperoleh bibit dalam jumlah yang besar karena bahan yang digunakan dapat diperoleh dalam jumlah banyak serta pelaksanaannya cukup mudah dan biayanya relatif murah.Pohon induk sebaiknya berumur sekitar 20 tahun biasanya lebih berhasil dibanding pohon yang muda. Pengambilan akar dilakukan dengan menggali akar kemudian dipotong sepanjang 0,5 – 1 m.

Caranya:

- Akar yang telah diambil kemudian dipotong-potong sepanjang 5-10 cm,   menggunakan silet atau pisau tajam agar menghasilkan potongan yang bersih dan rata. –

- Bagian akar yang dekat dengan pangkal batang dipotong secara serong, sementara itu, bagian ujungnya dipotong datar, lalu taburi dengan fungisida untuk mencegah serangan jamur.

- Stek akar disemai dalam media pasir setebal 7-10cm.

–  Posisinya dapat tegak atau dibaringkan. Jika disemai tegak, bagian pangkal     dibenamkan kedalam media sedalm 3-5 cm atau setengah dari panjang stek, dengan jarak 4-5 cm.

-  Apabila disemai dengan cara dibaringkan, setek cukup disusun dalam barisan berjarak 5 cm, lalu ditutupi pasir setebal 2-3 cm.

– Media semai harus selalu lembab agar setek menghasilkan tuunas akar yang banyak. Oleh karena itu, media disiram 2X sehari, pagi dan sore.

-  Pesemaian harus disungkup plastik agar kelembabannya tetap tinggi sehingga pertumbuhan akar dan tunas menjadi lebih cepat.

-   Stek dapat dipindahkan ke polibag pembesaran jika akarnya telah tumbuh banyak.

About these ads

6 responses to “bahan ajar pembiakan vegetatif ( pertemuan III & IV)

  1. perbanyakan tanaman dengan vegetatif merupakan salah satu bentuk dari upaya perbanyakan tanaman yang akan memiliki sifat yang sama dengan induknya dan juga dalam perbanyakan tanaman dengan vegetatif tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama dalam pembudayaannya sampai dengsn proses produksi yang diharapkan, yang cotohnya adalah perbanyakan dengan STEK.

  2. rajjitha handayani

    selamat malam ibu..
    gambar-gambarnya kok tidak muncul?

  3. Gia Tegar Pamungkas

    selamat sore ibu…………

    dari buku terbitan kanisius di tuliskan bahwa tanaman pepaya merupakan tanaman dikotil. terdapat dari klasifikasi pepaya tsb. ciri morfologi tanaman pepaya yang menggambarkan tanaman ini adalah dikotil yaitu, mempunyai akar tunggang, bentuk daun menjari, dll.
    sehingga tanaman ini dapat di kembangbiakan secara vegetatif, namun cara ini sulit di lakukan.

    terima kasih ibu.

  4. siang bu, ini tugas cangkok suci

    Mudahnya Perbanyak Puring
    February 20, 2008 by tabloidgallery

    Puring yang saat ini mulai diperhitungkan sebagai tanaman hias yang punya potensi dan penggemar yang luas ternyata mampu melakukan perbanyakan dengan mudah. Dari batang keras yang dimiliki, metode stek dan cangkok menjadi yang paling mudah untuk dilakukan. Selain punya waktu yang relatif singkat hasil perbanyakan juga 100 % sama dengan indukan.
    Tanaman hias dengan batang keras seperti halnya puring memang bisa tumbuh dengan mengandalkan penyerubukan alami. Namun butuh waktu yang cukup lama dan juga biji yang dihasilkan tidak bisa stabil kadang banyak dan sedikit. Dan yang utama hasil anakan dari biji punya kemungkinan besar tidak sama dengan indukan
    Dari model penyerbukan normal yang butuh waktu lebih lama lama ini sekarang banyak ditinggalkan oleh petani dan juga pengusaha tanaman hias. Pasalnya semakin lama perbanyakan tentu semakin lama keuntungan yang bisa diambil. Jadi cara tercepat dan teraman yang akan diambil dengan model cangkok maupun stek.
    Cara kerja stek maupun cangkok sebenarnya adalah menumbuhkan akar sebagai serapan nutrisi pada bagian yang diinginkan. Metode ini hampir semua tanaman yang mempunyai batang keras atau berkayu bisa melakukannya namun dengan karakter yang berbeda.
    Agus Choliq Pemilik Krokot Nursery yang mengkoleksi puring mengakui menggunakan metode stek dan cangkok dalam melakukan perbanyakan tanamannya. Sedangkan untuk penyerbukan alami dirinya melakukan hanya untuk proses penyilangan. Harapannya bisa menghasilkan satu jenis baru yang baik. Dengan naiknya pamor puring saat ini otomatis proses perbanyakan harus lebih cepat dan evisien sebagai konsekuensi permintaan pasar yang meningkat.
    Puring yang mempunyai batang keras mempunyai karakter yang berbeda dengan tanaman lainnya dengan karakter batang lunak. Bila di sejajarkan maka perbanyakan puring sama dengan tanaman yang sering kita lihat di sekitar kita dan yang paling mudah di dapatkan adalah tanaman buah. Berikut kami berikan dua alternatif tips dan trik perbanyakan puring.

    Metode Stek Lebih Cepat
    Metode stek merupakan cara yang paling mudah untuk dilakukan sebab tidak perlu persiapan yang panjang selain itu alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit.
    1. Siapkan peralatan yang terdiri dari gunting tanaman, pisau, plastik penutup, tali plastik, pot dan media tanam.
    2. Siapkan media tanam dengan campuran pasir, dengan humus bambu.
    3. Pilih batang puring yang sudah terlihat tua untuk dipotong. Cirinya cukup mudah perhatikan kulit bila sudah berwarna cokelat seperti kulit kayu berarti batang sudah siap di stek.
    4. Potong dengan menggunakan gunting tanaman yang sudah dibersihkan. Hindari pengunaan pisau sebab batang punya struktur yang keras dan mengandung kayu.
    5. Setelah terpisah jangan lupa untuk untuk menutup luka di pohon indukan dengan fungisida.
    6. Bila daun terlihat rimbun potong di bagian bawah dengan menyisakan sekitar 5-7 daun. Tujuannya untuk mengurangi penguapan yang harus di jaga selama proses stek.
    7. Ikat sisa daun mengarah keatas dan tutup dengan plastik untuk mengurangi penguapan.
    8. Rendam potongan bawah dalam larutan perangsang akar sekitar 15-20 menit.
    9. Masukkan dalam media tanam dengan urutan stylofoam/gabus bisa juga dengan menggunakan pecahan genting, selanjutnya masukkan pasir hingga setengah pot. Setelah itu masukkan potongan stek.
    10. Lapisan atas gunakan campuran pasir dengan humus bambu hingga penuh.
    11. Tekan media tanam hingga batang bisa berdiri tegak.
    12. Siram media tanam dengan menggunakan sisa air perangsang akar
    13. Tempatkan ditempat teduh.

    Tanda berhasilnya proses stek bisa dilihat dari kondisi daun selama satu hingga dua minggu. Bila terlihat tetap segar bahkan tumbuh tunas baru berarti stek berhasil dan tutup plastik bisa dilepas. Cara stek ini mempunyai kelebihan cepat dan mudah namun keberhasilan proses ini masih mempunyai keberhasilan hingga 90%. Jadi masih ada kemungkinan 10 persen tidak berhasil.
    Untuk meminimalkan kegagalan usahakan saat melakukan pemotongan stek dipastikan pohon dalam keadaan sehat. Selain itu batang juga harus sudah tua supaya pertumbuhan akar bisa maksimal. Yang tak kalah penting adalah untuk menjaga kelembaban dengan menempatkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari.

    Cara Cangkok Lebih Aman

    Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan cangkok. Cara ini punya keberhasilan lebih besar dari pada model stek sebab akar di rangsang sebelum batang di potong. Namun beberapa nursery menganggap cara ini jauh lebih merepotkan.
    1. Pilih batang yang sudah tua dengan warna cokelat. Usahkan batang yang dipilih lebih tua dari metode stek
    2. Siapkan pisau tajam, plastik, media tanam, dan tali plastik.
    3. Kupas kulit batang sekitar 3-4 cm untuk tempat media tanam cangkok.
    4. Masukkan media tanam yang terdiri dari humus daun dan bungkus dengan plastik
    5. Lubangi plastik untuk memberikan sirkulasi udara
    6. Siram media cangkok untuk menjaga kelembaban tanaman jadi jaga agar tidak kering
    7. Bila akar sudah terlihat lepas media tanam dan potong batang.
    8. Masukan dalam pot urutan sama dengan model stek.
    Metode cangkok ini lebih aman sebab saat dipisah dari indukan batang sudah mempunyai akar sehingga yang harus dijaga adalah kandungan nutrisinya. Namun cangkok memang punya waktu lebih lama dan batang yang dipilih harus lebih tua dari metode stek.

  5. S A W O
    ( Acrhras zapota. L )

    1. SEJARAH SINGKAT
    Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah berupa yang
    berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Namun di
    Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran
    rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 m dpl, seperti di Jawa dan Madura.

    2. JENIS TANAMAN
    Tanaman sawo dalam taksonomi tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut:
    Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
    Sub Divisi : Angiospermae (Berbiji tertutup)
    Kelas : Dicotyledonae (Biji berkeping dua)
    Ordo : Ebenales
    Famili : Sapotaceae
    Genus : Achras atau Manilkara
    Spesies : Acrhras zapota. L sinonim dengan Manilkara achras
    Kerabat dekat sawo dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
    1) Sawo Liar atau Sawo Hutan
    Kerabat dekat sawo liar antara lain: sawo kecik dan sawo tanjung. Sawo kecik
    atau sawo jawa (Manilkara kauki L. Dubard.) Sawo kecik dimanfaatkan sebagai
    tanaman hias atau tanaman peneduh halaman. Tinggi pohon mencapai 15 – 20
    meter, merimbun dan tahan kekeringan. Kayu pohonnya sangat bagus untuk
    dibuat ukiran dan harganya mahal. Sawo tanjung (Minusops elingi) memiliki buahTTG
    kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, jarang dimakan, sering digunakan
    sebagai tanaman hias, atau tanaman pelindung di pinggir-pinggir jalan.
    2) Sawo Budidaya
    Berdasarkan bentuk buahnya, sawo budidaya dibedakan atas dua jenis, yaitu:
    a. Sawo Manilas
    Buah sawo manila berbentuk lonjong, daging buahnya tebal, banyak
    mengandung air dan rasanya manis. Termasuk dalam kelompok sawo manila
    antara lain adalah: sawo kulon, sawo betawi, sawo karat, sawo malaysia, sawo
    maja dan sawo alkesa.
    b. Sawo Apel
    Sawo apel dicirikan oleh buahnya yang berbentuk bulat atau bulat telur mirip
    buah apel, berukuran kecil sampai agak besar, dan bergetah banyak. Termasuk
    dalam kelompok sawo apel adalah: sawo apel kelapa, sawo apel lilin dan sawo
    Duren

    3. MANFAAT TANAMAN
    Manfaat tanaman sawo adalah sebagai makanan buah segar atau bahan makan
    olahan seperti es krim, selai, sirup atau difermentasi menjadi anggur atau cuka.
    Selain itu, manfaat lain tanaman sawo dalam kehidupan manusia adalah:
    1) Tanaman penghijauan di lahan-lahan kering dan kritis.
    2) Tanaman hias dalam pot dan apotik hidup bagi keluarga;
    3) Tanaman penghasil buah yang bergizi tinggi; dan dapat dijual di dalam dan luar
    negeri yang merupakan sumber pendapatan ekonomi bagi keluarga dan negara;
    4) Tanaman penghasil getah untuk bahan baku industri permen karet;
    5) Tanaman penghasil kayu yang sangat bagus untuk pembuatan perabotan rumah
    tangga.

    4. SYARAT TUMBUH
    4.1. Iklim

    -Tanaman ini optimal dibudidayakan pada daerah yang beriklim basah sampai
    kering.
    -Curah hujan yang dikehendaki yaitu 12 bulan basah atau 10 bulan basah dengan
    - bulan kering atau 9 bulan basah dengan 3 bulan kering atau 7 bulan basah
    dengan 5 bulan kering dan 5 bulan basah dengan 7 bulan kering atau
    membutuhkan curah hujan 2.000 sampai 3.000 mm/tahun.
    - Tanaman sawo dapat berkembang baik dengan cukup mendapat sinar matahari
    namun toleran terhadap keadaan teduh (naungan).
    - Tanaman sawo tetap dapat berkembang baik pada suhu antara 22-32 derajat C.

    4.2. Media Tanam
    1) Jenis tanah yang paling baik untuk tanaman sawo adalah tanah lempung berpasir
    (latosol) yang subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik.
    Tetapi hampir semua jenis tanah yang diginakan untuk pertanian cocok untuk
    ditanami sawo, seperti jenis tanah andosol (daerah vulkan), alluvial loams (daerah
    aliran sungai), dan loamy soils (tanah berlempung).
    2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk perkembangan tanaman
    sawo adalah antara 6–7.
    3) Kedalaman air tanah yang cocok untuk perkembangan tanaman sawo, yaitu
    antara 50 cm sampai 200 cm.

    4.3. Ketinggian Tempat
    Tanaman sawo dapat hidup baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai
    dengan ketinggian 1.200 m dpl. Tetapi ada daerah-daerah yang cocok sehingga
    tanaman sawo dapat berkembang dan berproduksi dengan baik, yaitu dari dataran
    rendah sampai dengan ketinggian 700 m dpl.

    5 PEDOMAN BUDIDAYA

    1. Pembibitan
    1) Persyaratan Bibit
    Saat ini tanaman sawo sudah dapat dikembangkan dalam dua tempat, yaitu di
    kebun dan di dalam pot. Bibit yang dipilih sebaiknya bibit yang berasal dari
    cangkok atau sambung, sebab bibit yang berasal dari biji lambat dalam
    menghasilkan buah. Bibit dipilih yang sehat dengan daun yang kelihatan hijau
    segar dan mengembang sempurna serta bebas hama dan penyakit. Bibit dari
    cangkok dipilih yang memiliki cabang atau ranting yang bagus dan sehat.
    2) Penyiapan Bibit
    Untuk memperoleh bibit tanaman sawo ada beberapa cara, misalnya dari biji,
    sambung, dan cangkok.
    Pembenihan biji
    Perbanyakan tanaman sawo secara generatif dengan biji memiliki keunggulan
    dan kelemahan. Bibit yang berasal dari biji memiliki perakaran yang kuat dan
    dalam. Akan tetapi perbanyakan secara generatif hampir selalu memberikan
    keturunan yang berbeda dengan induknya karena ada pencampuran sifat
    kedua tetua atau terjadi proses segregasi genetis. Tanaman sawo yang berasal
    dari biji mulai berbuah pada umur ± 7 tahun. Teknik pembibitan tanaman sawo
    dari biji melalui tahap tahap sebagai berikut:
    1. Pemilihan buah
    Pilih buah tua yang matang di pohon, sehat, bentuknya normal dan berasal
    dari pohon induk varietas unggul yang telah berbuah.
    2. Pengambilan biji
    - Belah buah menjadi beberapa bagian.
    - Ambil dan kumpulkan biji-biji sawo yang baik saja, kemudian tampung
    dalam wadah.
    - Cuci dalam air yang mengalir atau air yang disemprotkan sampai biji
    benar-benar bersih.
    - Keringkan biji selama 3 hari sampai 7 hari agar kadar air biji berkisar
    antara 12-14%.
    - Masukkan biji ke dalam wadah tertutup rapat untuk disimpan beberapa
    waktu.
    3. Pengecambahan benih
    - Siapkan bak pengecambahan yang telah diisi media pasir bersih setebal
    10–15 cm.
    - Sebarkan biji sawo pada permukaan media, kemudian tutup dengan pasir
    setebal 1–2 cm.
    - Siram media dalam bak pengecambahan dengan air bersih hingga cukup
    basah.
    - Tutup permukaan bak pengecambahan dengan lembaran plastik bening
    (tembus cahaya) untuk menjaga kestabilan kelembaban media.
    - Biarkan biji berkecambah ditempat yang teduh selama 7 hari sampai 15
    hari. Biji sawo yang telah berkecambah atau keluar akar sepanjang 2-5
    mm dapat segera dipindahsemikan.
    b) Bibit Asal Enten (Grafting)
    Penyambungan tanaman sawo sebagai batang atas dilakukan dengan tanaman
    ketiau atau melali (Bassia sp.) sebagai batang bawahnya. Metoda
    penyambungan yang dilakukan adalah metoda sambung pucuk (top grafting).
    Tata laksana memproduksi bibit sawo dengan cara sambung pucuk (top
    grafting) adalah sebagai berikut:TTG BUDIDAYA PERTANIAN
    1. Persiapan
    Siapkan alat dan bahan berupa pisau tajam, tali rafia atau lembar plastik,
    gunting, kantong plastik bening, batang bawah melali atau bassia umur 3-6
    bulan atau berdiameter batang 0,3–0,7 cm, dan cabang atau tunas entres.
    2. Pelaksanaan sambung pucuk
    - Potong ujung batang tanaman bassia pada ketinggian 15–20 cm dari
    permukaan tanah.
    - Sayat batang bawah membentuk celah atau huruf V sepanjang 3–5 cm.
    - Sayat cabang entres sepanjang 4 cm membentuk baji seukuran sayatan
    batang bawah dan buang sebagian daunnya.
    - Masukkan pangkal cabang entres ke celah batang bawah hingga pas
    benar.
    - Ikat erat-erat hasil sambungan tadi dengan tali rafia atau lembaran plastik.
    - Kerudungi hasil sambungan dengan kantong plastik bening selama 10-15
    hari.
    3. Pengakhiran
    Hasil sambungan dapat diperiksa setelah 10 hari sampai 15 hari kemudian.
    Caranya adalah dengan membuka kerudung kantong plastik, kemudian mata
    entres atau bidang sambungan diperiksa. Jika mata entres berwarna hijau
    dan segar berarti penyambungan berhasil. Sebaliknya, bila mata entres
    berwarna coklat dan kering berarti penyambungan gagal.

    c) Bibit Cangkok

    Perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cangkok paling umum
    dipraktekkan oleh pembibit tanaman tahunan, khususnya buah-buahan.
    Kelemahan bibit cangkok adalah sistem perakaran kurang kuat karena tidak
    memiliki akar tunggang. Keuntungan perbanyakan tanaman dengan cangkok,
    antara lain adalah sebagai berikut: (1) cangkok mempercepat kemampuan
    berbuah karena pada umur kurang dari satu tahun tanaman sudah mulai
    berbunga atau berbuah; (2) cangkok memperoleh kepastian kelamin serta sifat
    genetiknya sama dengan pohon induk; (3) Habitus tanaman pada umumnya
    pendek (dwarfing) sehingga memudahkan pemeliharaan dan panen. Tata
    laksana pembibitan tanaman sawo dengan cangkok adalah sebagai berikut:
    1. Persiapan
    Siapkan alat dan bahan yang terdiri dari pisau, sabut kelapa atau lembaran
    plastik, tali pembalut, kotak alat, tali, media atau campuran tanah subur
    dengan pupuk kandang (1:1), dan cabang yang cukup umur.
    2. Pelaksanaan mencangkok
    - Pilih cabang yang memenuhi persyaratan, yaitu berukuran cukup besar,
    tidak terlalu muda ataupun tua, pertumbuhannya baik, sehat dan tidak
    cacat, serta lurus.
    - Tentukan tempat untuk keratan pada bagian cabang yang licin.
    - Buat dua keratan (irisan) melingkar cabang dengan jarak antara 3–5 cm.
    - Lepaskan kulit cabang bidang keratan tadi.
    - Kerik kambium hingga tampak kering.
    - Biarkan bekas keratan mengering antara 3 hari sampai 5 hari.
    - Olesi bidang sayatan dengan zat pengatur tumbuh akar, seperti RootoneF.
    - Ikat pembalut cangkok pada bagian bawah keratan.
    - Letakkan media pada bidang karatan sambil dipadatkan membentuk
    bulatan setebal ± 6 cm.
    - Bungkus media dengan pembalut sabut kelapa atau lembaran plastik.
    - Ikat ujung pembalut (pembungkus) di bagian ujung keratan.
    - Ikat bagian tengah pembungkus cangkok, dan buat lubang-lubang kecil
    dengan cara ditusuk-tusuk lidi.
    3. Pemotongan bibit cangkok
    Setelah bibit cangkok menunjukkan perakarannya (1,5–3,5 bulan dari
    pencangkokan), potong bibit cangkok dari pohon tepat dibawah bidang
    keratan.
    4. Pendederan bibit cangkok
    - Siapkan polybag berdiameter antara 15-25 cm atau sesuai dengan ukuran
    bibit cangkok.
    - Isi polybag dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang
    matang (1:1) hingga mencapai setengah bagian polybag.
    - Lepaskan (buka) pembalut bibit cangkok.
    - pangkas sebagian dahan, ranting, dan daun yang berlebihan untuk
    mengurangi penguapan.
    - Tanamkan bibit cangkok tepat di tengah-tengah polybag sambil mengatur
    perakarannya secara hati-hati.
    - Penuhi polybag dengan media hingga cukup penuh sambil memadatkan
    pelan-pelan pada bagian pangkal batang bibit cangkok.
    - Siram media dalam polybag dengan air bersih hingga cukup basah.
    - Simpan bibit cangkok di tempat yang teduh dan lembab.
    - Biarkan dan pelihara bibit cangkok selama 1-1,5 bulan agar beradaptasi
    dengan lingkungan setempat dan tumbuh tunas-tunas dan akar baru.
    - Pindah tanamkan bibit cangkok yang sudah tumbuh cukup kuat ke kebun
    atau dalam pot.
    5. Pengakhiran
    Berhasil tidaknya cangkok dapat diketahui setelah 1,5-3,5 bulan kemudian.
    Berdasarkan pengalaman para pembibit tanaman buah-buahan,
    pembungkus (pembalut) cangkok yang berupa lembaran plastik lebih cepat
    menumbuhkan akar dibandingkan sabut kelapa.
    3) Teknik Penyemaian Benih
    a) Pembuatan media persemaian
    Persemaian dapat dilakukan pada bedengan persemaian atau menggunakan
    polybag. Tata laksana penyiapan lahan persemaian berupa bedengan adalah
    sebagai berikut:
    1. Buat bedengan persemaian berukuran 100-150 cm, tinggi 30-40 cm, panjang
    tergantung keadaan lahan, dan jarak tanam antar bedengan 50-60 cm.
    2. Sebarkan pupuk kandang sebanyak 2 kg/m2
    sampai 3 kg/m2
    luas bedengan,
    lalu campurkan merata dengan lapisan tanah atas.
    3. Buat tiang-tiang persemaian setinggi 100-150 cm di sebelah dan 75-100 cm
    di sebelah barat, kemudian pasang palang-palang dan atap persemaian
    yang terbuat dari plastik atau daun kering.
    4. Ratakan dan rapikan bedengan persemaian, lalu siram dengan air bersih
    hingga cukup basah.
    Tata cara penyiapan tempat semai dalam polybag adalah sebagai berikut:
    1. Siapkan polybag berdiameter 10-15 cm, media campuran tanah subur,
    pupuk kandang halus (diayak), dan pasir (1:1:1), atau campuran tanah
    dengan pupuk kandang (1:1).
    2. Lubangi bagian dasar polybag untuk pembuangan air.
    3. Isikan media ke dalam polybag hingga cukup penuh.
    4. Simpan polybag yang telah diisi media di tempat yang rata mirip bedengan
    dan diberi naungan.
    b) Penyemaian
    1. Semaikan biji sawo yang sudah berkecambah (7-15 hari setelah tahap
    pengecambahan biji) pada bedengan penyemaian atau dalam polybag
    sedalam 1-2 cm. Jarak semai antar biji yang disemai pada bedengan
    penyemaian diatur 10 cm x 10 cm atau 15 cm x 15 cm. Penyemaian dalam
    polybag cukup diisi satu butir biji sawo tiap polybag.
    2. Siram media dengan air bersih hingga cukup basah.
    3. Biarkan biji tumbuh menjadi bibit muda.
    4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
    Tata laksana pemeliharaan bibit dalam tempat penyemaian adalah sebagai
    berikut:
    a) Lakukan penyiraman secara kontinu tiap hari 1 kali sampai 2 kali, atau
    tergantung pada cuaca dan keadaan media.
    b) Pupuklah tanaman muda tiap 1 bulan sampai 3 bulan sekali dengan pupuk NPK
    (15-15-15 atau 16-16-16) sebanyak 10 gram sampai 25 gram, yang dilarutkan
    dalam 10 liter air untuk disiramkan pada media.
    c) Lakukan penyemprotan pestisida bila ditemukan serangan hama dan penyakit
    dengan menggunakan dosis rendah (30-50% dari dosis anjuran).
    d) Pindah tanamkan bibit dari bedengan persemaian secara cabutan ke dalam
    polybag, atau dari polybag lama ke polybag baru yang ukurannya lebih besar.
    e) Pelihara bibit sawo sampai cukup besar atau setinggi 50-100 cm untuk siap
    ditanam.
    5) Pemindahan Bibit
    Bibit sawo yang telah siap dipindahkan adalah bibit yang telah mencapai
    ketinggian 50-100 cm.
    6.2. Pengolahan Media Tanam
    1) Persiapan
    Penetapan areal untuk perkebunan sawo harus memperhatikan faktor kemudahan
    transportasi dan sumber air.
    2) Pembukaan Lahan
    a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta
    menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.
    b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.
    6.3. Teknik Penanaman
    1) Penentuan Pola Tanam
    Untuk tujuan mendapatkan buah yang banyak, menanam sawo di kebun memang
    lebih tepat. Penanaman tidak hanya dilakukan dengan satu atau dua buah pohon,
    tetapi dalam jumlah yang banyak.
    Tanaman sawo di kebun dapat tumbuh besar dengan tajuk yang lebar. Mengingat
    hal ini maka penanaman sawo harus dilakukan dengan jarak yang tidak terlalu
    rapat antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain. Jarak tanam untuk
    sawo yang dianggap cukup adalah 12 m x 12 m. Dengan jarak tanam seperti ini,
    antara tanaman sawo yang satu dengan yang lain tidak bersentuhan yang dapat
    mengakibatkan terganggunya pertumbuhan. Penanaman sebaiknya dilakukan
    pada waktu musim penghujan.
    2) Pembuatan Lubang Tanam
    Pembuatan lubang tanam dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih
    baik bagi bibit yang akan ditanam. Untuk itu tanah tempat penanaman dalam
    lubang tanam haru gembur karena sistem perakaran bibit yang masih lemah.
    Lubang tanam untuk sawo dapat dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.
    Tanah galian bagian atas ± 30 cm dipisah dengan tanah bagian bawah. Keduanya
    kemudian dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 kg sampai rata. Pupuk
    kandang ini berfungsi sebagai pupuk dasar. Selama dua minggu lubang tanam ini
    dibiarkan terjemur sinar matahari.
    Bila bibit telah siap, bisa langsung ditanam di lubang tanam. Tetapi bila bibit belum
    siap tanam, maka tanah galian bagian bawah dikembalikan ke bawah dan tanah
    galian atas dikembalikan ke bagian atas. Sebagai tanda bahwa di tempat itu ada
    lubang tanam, dapat ditandai dengan kayu yang ditancapkan pada lubang
    tersebut. Setelah bibit siap tanam maka lubang tanam digali lagi.
    3) Cara Penanaman
    Sebelum ditanam, pembungkus (polybag) harus dilepas dengan hati-hati agar
    tanahnya tidak berantakan dan perakaran tidak rusak. Penanaman dilakukan
    sedalam leher akar tegak di tengah lubang tanam.Masukkan tanah bagian atas
    bekas galian lebih dahulu, baru disusul tanah bagian bawah bekas galian. Tanah
    di sekeliling akar tanaman dipadatkan agar tidak terjadi rongga-rongga udara yang
    dapat menyulitkan akar mencari makan.
    6.4. Pemeliharaan Tanaman
    1) Penyiangan
    Setelah satu bulan sampai dua bulan tanam, perlu dilakukan penyiangan tanaman
    sawo untuk membersihkan rumput dan gulma yang menggangu. Jika tanaman
    sudah tumbuh besar gangguan tersebut tidak berarti, tetapi jika tanaman masih
    kecil akan sangat berarti karena akan mengganggu pertumbuhan tanaman sawo.
    Gangguan tumbuhan parasit seperti benalu juga harus diperhatikan. Jika kelihatan
    pada ranting pohon sawo terdapat benalu atau parasit agar segera dibersihkan
    dengan cara memotong ranting tempat benalu menempel. Pemotongan sebaiknya
    dilakukan sebelum benalu berbunga. Perlu pula dilakukan pemberantasan benalu
    pada pohon lain di dekat tanaman sawo untuk mencegah penularan.
    2) Pembubunan
    Pada saat melakukan penyiangan tanaman sawo, dapat juga dilakukan
    pembubunan tanah di sekitar tanaman. Pembubunan dilakukan untuk
    menggemburkan tanah di sekitar tanaman sawo dan untuk memperkokoh batang
    tumbuhnya.
    3) Pemupukan
    Sebagai pedoman pemupukan dapat diberikan 250-500 gram urea/pohon/tahun
    sebelum tanaman sawo berbuah. Pemupukan ini dimaksudkan untuk merangsang
    pertumbuhan batang dan daun, karena urea adalah sumber N yang berfungsi
    untuk merangsang pertumbuhan batang dan daun.
    Bila tanaman sudah waktunya berbuah, kurang lebih berumur 4 tahun, dilakukan
    pemupukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPK (10-20-15) yang
    kandungan fosfor (P) dan kaliumnya (K) tinggi sebanyak 500 gram per pohon tiap
    tahun. Bila tidak ada NPK bisa diganti dengan pupuk urea, DS, dan KCl sebanyak
    108 gram, 277 gram, dan 144 gram. Unsur P bagi tanaman berfungsi untuk
    mempercepat pembungaan, sedangkan unsur K berfungsi untuk menjaga bunga
    dan buah supaya tidak mudah gugur.
    Jumlah pupuk tersebut secara bertahap ditingkatkan sampai 2 kg/pohon tiap
    tahun untuk tanaman sawo yang telah berumur 15 tahun. Selain urea dan NPK
    yang diberikan, perlu juga diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg/pohon untuk
    memperbaiki struktur tanah. Pemberian pupuk lanjutan tersebut dilakukan dua kali
    dalam setahun, yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Dosis yang diberikan
    setengah dari yang disebutkan di atas.
    Cara pemberian pupuk dengan menaburkan pupuk ke dalam parit yang digali di
    bawah pohon mengelilingi lingkaran tajuk dengan lebar dan kedalaman ± 10 cm.
    Dapat juga ditanam pada empat lubang di bawah tajuk pohon dengan ukuran 20
    cm x 20 cm x 20 cm untuk tiap lubang.
    4) Penyiraman
    Pada awal tanaman sawo memulai kehidupannya, perlu dilakukan penyiraman
    paling sedikit dua minggu sekali jika tidak ada hujan. Pemberian air pada tanaman
    sawo perlu dilakukan sampai tanaman berumur 3-4 tahun. Semakin tua tanaman,
    semakin tahan terhadap kekeringan.
    Kekurangan air pada waktu tanaman sawo sedang berbunga atau berbuah dapat
    menyebabkan bunga atau buah mudah gugut. Pemberian air yang baik dan
    teratur akan menghasilkan buah dengan jumlah dan kualitas yang baik.
    5) Waktu Penyemprotan Pestisida
    Penyemprotan dengan pestisida atau insektisida dapat dilakukan jika pada
    tanaman sawo terdapat hama dan penyakit yang menyerangnya, yaitu:
    a) Penyemprotan dengan insektisida jenis Agrothion 50 EC dengan dosis 3-4
    cc/liter air untuk membunuh lalat buah (Ceratitis capitata atau Dacus sp.).
    b) Penyemprotan dengan insektisida jenis Diasinon 60 EC dengan dosis 1-2
    cc/liter air atau Basudin 50 EC dengan dosis 2 cc/liter air untuk membunuh kutu
    hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan kutu coklat (Saissetia nigra)
    yang menyerang ranting muda dan daun-daun tanaman sawo yang
    menyebabkan ranting dan daun mengkerut, layu, kering, dan terhambat
    pertumbuhannya.
    c) Penyemprotan dengan fungisida Cuspravit OB 21 dengan dosis 4 gram/liter air
    setiap tiga minggu sekali untuk mengatasi dan mencegah serangan jamur upas
    yang disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor.
    d) Penyemprotan dengan fungisida Antracol 70 WP dengan dosis 2 gram/liter air
    atau Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4 gram/liter air untuk mengatasi
    penyakit jamur jelaga yang disebabkan oleh jamur Capnodium sp.
    Penyemprotan dengan fungisida Dithane M-45 80 WP dengan dosis 1,8-2,4
    gram/liter air untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh jamur
    Phytopthora valmivora Butl. Yang menyebabkan busuk buah sawo.
    6) Pemangkasan
    Jika dibiarkan tumbuh secara alami, tanaman sawo dapat mencapai ketinggian 20
    m. Pohon dengan ketinggian seperti itu akan menyulitkan dalam pemetikan buah.
    Agar tanaman sawo tidak terlalu tinggi, maka dilakukan pemangkasan.
    Pemangkasan juga bertujuan membentuk sistem percabangan yang baik dan
    kuat.
    Ada dua tahap pemangkasan pada tanaman sawo, yaitu pemangkasan bentuk
    dan pemangkasan pemeliharaan.
    a) Pemangkasan Bentuk
    Pemangkasan bentuk ditujukan untuk mengatur tinggi rendah dan bentuk tajuk
    untuk memudahkan dalam pemetikan buah serta pengontrolan terhadap hama
    dan penyakit.
    Pemangkasan pertama dilakukan ketika tanaman telah mencapai tinggi 100-
    160 cm. Pemangkasan dilakukan pada musim penghujan dengan memotong
    ujung batang hingga ketinggiannya tinggal 75-150 cm. Tempat pemangkasan
    harus sedikit di atas ruas batang. Untuk mencegah penyakit, luka bekas
    pangkasan dapat ditutup dengan cat meni atau parafin. Beberapa hari setelah
    pemangkasan akan tumbuh tunas-tunas baru. Tiga dari tunas yang tumbuh
    sehat dan tidak saling berdekatan dipilih sebagai cabang primer dan tunas
    lainnya dibuang.
    Pemangkasan ke dua dilakukan pada awal musim penghujan berikutnya, tunas
    yang telah berumur satu tahun dipangkas lagi hingga panjangnya tinggal 25-40
    cm. Pemangkasan ini dilakukan tepat di atas mata tunas. Akibat pemangkasan
    ini akan muncul tunas-tunas baru. Tiga sampai empat tunas yang sehat
    dibiarkan tumbuh menjadi cabang sekunder dan tunas yang lain dipotong.
    Pemangkasan ke tiga yang merupakan pemangkasan terakhir dilakukan pada
    awal musim penghujan berikutnya, cabang-cabang sekunder dipotong untuk
    membentuk cabang-cabang tersier. Pemotongan dilakukan sampai jumlah
    cabang-cabang sekunder tinggal dua pertiganya. Setelah pemangkasan ini
    akan muncul tunas-tunas baru. Dua atau tiga tunas dari masing-masing cabang
    sekunder dibiarkan tumbuh, yang lainnya dibuang setelah tumbuh sepanjang
    10 cm.
    b) Pemangkasan Pemeliharaan
    Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk mencegah serangan penyakit,
    menumbuhkan tunas baru untuk mengganti cabang tua yang tidak berproduktif
    lagi, serta mengurangi kerimbunan sehingga sinar matahari dapat dimasukkan
    ke mahkota tajuk.
    Dalam pemangkasan ini yang perlu dipangkas adalah cabang-cabang air yaitu
    cabang-cabang yang tumbuh lurus ke atas dengan kecepatan pertumbuhan
    lebih besar dibandingkan cabang-cabang lain. Warna cabang air ini lebih muda
    dengan jarak antar ruas cabang yang lebih panjang. Selain cabang air yang
    perlu dihilangkan adalah cabang yang tumbuh liar, cabang yang sakit.

  6. Rajjitha Handayani

    Selamat siang ibu…
    Ini hasil terjemahan saya, mudah – mudahan bermanfaat

    PRINSIP DAN TEKNIK PERUNDUKAN

    Pengantar :

    Pada topik perundukan, semua jenis perbanyakan, dimana akar dipacu untuk dibentuk pada batang sementara yang masih melekat pada pohon induk. Hanya setelah akar terbentuk, cabang rundukan dipisahkan dan ditanam secara terpisah.
    Perundukan sering dipakai terutama pada jenis yang sulit berakar pada stek. Sebagai batang utuh yang mendapatkan persediaan air, unsur hara, dan hormon tanaman ke tempat pembentukan akar. Dehidrasi, merupakan masalah umum pada stek, dicegah, baik seperti pelarutan unsur hara yang sering terjadi pada perbanyakan yang salah. Perundukan sudah sering dipakai sejak bertahun – tahun lalu, kebersihan paling nyata mencegah penyebaran hama dan penyakit, terutama nematoda dan virus (lihat topik 2). Kiat saat perundukan adalah sering menggunakan jenis yang tidak mudah terkena hama dan penyakit pada akar, masing – masing dapat diambil beberapa bulan hingga akar telah terbentuk pada rundukan.
    Yang termasuk teknik perundukan paling umum untuk pohon agroforestry adalah mencangkok, perundukan sederhana, dan stoolung. Pada perbanyakan buah tropis, mencangkok memegang peran penting.
    Sebenarnya cara ini telah dikembangkan pada daerah beriklim sedang dengan musim istirahat yang berbeda sesuai dengan suhu dingin. Mereka dengan mudah menyesuaikan pada kondisi tropis dimana musim pertumbuhan sebagian besar ditentukan oleh hujan.

    MENCANGKOK

    Mencangkok dapat dilakukan hampir pada semua tanaman berkayu, dan merupakan salah satu teknik yang unggul dalam memperbanyak angka kecil dari satu pohon. Menggunakan tunas (cabang) yang relatif muda, dengan demikian untuk merangsang munculnya hormon pembentuk akar tanaman pada potongan tanpa menghalangi suplai air dan unsur hara ke ujung batang. Tunas (cabang) harus masih muda dan kayunya cukup kuat untuk menahan perlakuan, yang terbaik adalah pada awal fase pertumbuhan. Terlihat bahwa bahan pembentukan individu tunas lebih penting dari pada musim lingkungan mencangkok (Garner et al, 1976).
    Potongan dibuat pada satu tempat tepat pada tunas (cabang). Panjang ideal tunas (cabang) cangkokan adalah diantara 20 dan 60 cm, hindari tunas (cabang) yang terlalu besar karena akan kesulitan dalam pembuatannya. Satu sayatan melingkar lengkap dari kulit kayu sekitar 1 – 5 cm, dibuang dengan membuat 2 potongan melingkar dan menghilangkan kulit batang. Yang terpenting sayatan melingkar cukup luas untuk mencegah kalus dari penutupan luka. Namun kerusakan berlebihan pada tunas (cabang) harus dihindari. Memotong kayu terlalu dalam juga harus dihindari. Bagaimana pun juga akan menghalangi persediaan air dan meningkatkan resiko kerusakan pada tunas (cabang). Bahan perangsang pembentukan akar seperti serbuk auksin dapat digunakan dan kalau perlu dicampur dengan fungisida.
    2 gengagam penuh dari substrat penumbuh akar (media) dapat disekitar sayatan, kemudian dibungkus dalam plastik dan dibungkus dalam aluminium foil untuk memelihara kelembaban dan mencegah bertambah panas. Substrat penumbuh akar (media) harus tersinari dalam berat, berlubabang – lubang agar O2 tersedia cukup disekitar sayatan, namun dengan kapasitas pemegang air pasang. Lumut, sabut kelapa, serbuk gergaji, vermikulit atau campuran media apapun, telah dibuktikan bisa digunakan. Terutama untuk jenis yang memerlukan mycrosymbionts, cecah tanah dari pohon didirikan dapat ditambahkan ke media untuk membantu pembentukan akar.
    Untuk menolong cangkokan agar bertahan, daun dipangkas atau dihilangkan sama sekali dan tunas secara parsial terpotong beberapa hari sebelum pemanenan. Saat pemanenan, cangkokan harus di tempatkan dalam suatu wadah berisi air kemudian ditaruh dalam pot mengandung unsur hara, kemudian ditempatkan di bawah naungan terutama pada kondisi lembab, seperti pada polypropogator.
    Jenis yang biasanya diperbanyak dengan mencangkok meliputi mangga, Ficus spp, jeruk, dan alpokat. Ini merupakan cara yang paling sesuai dengan lingkungan lembab kecuali jika sesuai, juga akan berhasil di iklim yang panas. Seperti pada perbanyakan secara vegetatif lainnya, kelembaban yang cukup adalah kunci kesuksesan dan perundukan menginginkan lingkungan tertentu, perlu diperiksa secara teratur dan kalau perlu dibasahi (siram).

    Keterangan gambar :
    1. sayat tunas (cabang) yang dicangkok dengan menggunakan pisau yang tajam. Bidang sayatan melingkar. Penyayatan dilakukan tepat dibawah kuncup daun, karena disinilah tempat berkumpulnya zat pembentuk akar. Kupas kulit batang di bidang sayatan sampai terlihat kambium yang berlendir, hilangkan kambium dengan hati-hati agar tidak melukai jaringan kayu. Biarkan bidang sayatan selama beberapa hari sampai mengering
    2. membungkus bidang sayatan dengan media yang bisa berupa campuran media apapun (misal lumut, serbuk gergaji, sabut kelapa, vermikulit, tanah)
    3. setelah media membungkus bidang sayatan, bentuk bongkahan lalu bungkus dengan plastik, ikat bagian bawah terlebih dahulu agar media tidak tumpah, kemudian ikat yang bagian bawah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s