Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

About these ads

24 responses to “Hello world!

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

  2. sore bu…
    menurut saya, penggunaan stek akar hasilnya kurang memuaskan karena pada akar yang sudah diambil dari tanaman muda kemudian dipotong dan disemaikan belum tentu menghasilkan tanaman baru yang unggul,stek akar ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan fisiologi tumbuhan.
    terimakasih

  3. Juwita Sri Maranatha Sihombing

    Met Malam Bu……………
    “Rancangan apa yang sesuai untuk menguji12 varietas kubis di 3 ketinggian tempat. Buat ilustrasi dan gambar”

    Dari soal tersebut saya menganalisa bahwa dalam 1 arel terdapat 3 kelompok yang berarti 3 ulangan yang mana tiap kelompok berbeda ketinggian tempat. Dan terdapat 12 varietas kubis yang berbeda. Dan rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK). Dalam hal ini saya memisalkan Kelompok A terdapat dalam ketinggian 1.230 m dpl, Kelompok B 1.456 m dpl, kelompok C 1.678 m dpl.

    Arah matahari

    Arah kemirngan

    Kel A Kel B Kel C

    Aduh Bu, gambarnya kok ga bisa ditampilkan ya Bu…………….?????????????

  4. selamat siang ibu…
    ini saya eka trisnadinata (D1A106033)
    saya ingin mengirimkan tugas vegetatif yang ibu berikan pada pertemuan yang kedua, yang menyangkut tentang pepaya
    1. Apakah pepaya termasuk tanaman dikotil/monokotil
    jawab : tanaman pepay termasuk kedalam tanaman dikotil, karena di lihat dari morfologi bijinya, bila biji pepaya di belah berkeping dua. selain itu juga bila di lihat dari morfologi akarnya, tanaman pepaya memiliki akar tunggang yang bercabang-cabang, dan sedangkan akar tunggang serta biji berkeping dua merupakan salah satu syarat suatu tanaman untuk di golongkan kedalam tanaman dikotil.

    2. apakah tanaman pepaya berkembang secara vegetatif atau generatif
    jawab. menurut saya, tanaman pepaya dapat di perbanyak dengan cara di cangkok, di sambumg batang (vegetatif), atau dengan bijinya (generatif), akan tetapi cara perbanyakan melaluicangkok dan sambung batang jarang di lakukan, karena sulit untuk di lakukan, sehingga banyak di lakukan dengan biji (generatif)

  5. retna desfira lestari (D1A106002)

    siang ibu,,,maaf bu saya mengganggu…
    nama saya Retna Desfira Lestari

    Saya ingin mengirimkan tugas yang ibu berikan tentang perbanyakan pepaya serta penggolongan tanaman pepaya.
    1. Tanaman pepaya termasuk tanaman dikotil atau monokotil dan bagaimana cara pembiakannya (vegetatif/generati).
    jawab : menurut saya, tanaman pepaya termasuk kedalam tanaman di kotil, alasannya karena tanaman pepaya berkeping dua pada bijinya, dan pada akarnya tanaman pepaya memiliki akar berjenis akar tunggang.
    sedangakan untuk pembiakannya, tanaman pepaya bisa di kembang biakan secara generatif maupun vegetatif. untuk pengembangbiakan secara vegetatif, dapat di lakukan dengan cara di sambung batang maupun cangkok. akan tetapi dengan cara ini masih jarang di lakukan karena sangat sulit. sedangkan pengembangbiakan dengan menggunakan biji sangat mudah di lakukan. sehingga kebanyakan petani pepaya mengembangkan tanaman pepaya dengan menggunakan biji.

  6. selamat malam ibu………
    maaf kalo saya mengannggu aktifitas ibu sebentar..

    Menurut saya Perbanyakan pepaya dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan cara sambung, cangkok, atau dengan biji. Namun dengan cara sambung dan cangkok jarang dilakukan orang, karena dirasakan sangat sulit. Cara yang paling mudah untuk perbanyakan adalah dengan biji, ini menjadi alternatif untuk mengembangbiakan tanaman pepaya yang banyak dilakukan para petani pepaya saat ini..

  7. mat malam bu…
    ni roma mau kirim tugas minggu maren.
    1. Apakah pepaya tumbuhan monokotil atau dikotil?
    2. Apakah pepaya dapat dikembangkan melalui cara vegetatif?
    Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya.

    Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

    1. Bentuk akar
    - Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
    - Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang
    2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
    - Monokotil : Melengkung atau sejajar
    - Dikotil : Menyirip atau menjari
    3. Kaliptrogen / tudung akar
    - Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
    - Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar
    4. Jumlah keping biji atau kotiledon
    - Monokotil : satu buah keping biji saja
    - Dikotil : Ada dua buah keping biji
    5. Kandungan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak terdapat kambium
    - Dikotil : Ada kambium
    6. Jumlah kelopak bunga
    - Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
    - Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
    7. Pelindung akar dan batang lembaga
    - Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar
    lembaga / keleorhiza
    - Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
    8. Pertumbuhan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    - Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    9. Contoh tumbuhan
    - Monokotil : Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem
    dan lain – lain.
    - Dikotil : Pepaya, Kacang Tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing,
    Beringin, Jati, Mahoni dan lain – lain.

    Diambil dari : Broto, W., Suyanti, dan Sjaefuloh. 1991. Karakterisasi varietas untuk standarisasi mutu buah pepaya (Carica papaya L). Jurnal Hortikultura 1(2):41-44.

    Klasifikasi Pepaya
    Divisi : Spermatophyta
    Sub divisi : Angiospermae
    Kelas : Dicotyledonae
    Bangsa : Cistales
    Suku : Caricaceae
    Marga : Carica
    Jenis : Carica papaya L

    Habitus : Perdu, tinggi ± 10 m.
    Batang : Tidak berkayu, silindris, berongga, putih kotor.
    Daun : tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi
    bergerigi, diameter 25-75 cm, pertulangan menjari,
    panjang tangkai 25-100 cm, hijau.
    Bunga : Tunggal, bentuk bintang, di ketiak daun, berkelamin
    satu atau berumah dua. Bunga jantan terletak pada
    landan yang serupa malai, kelopak kecil, kepala
    sari berlangkai pendek atau duduk, kuning, mahkota
    bentuk terompet, tepi bertaju lima, bertabung panjang,
    putih kekuningan Bunga betina berdin sendiri,
    mahkota lepas, kepala putik lima, duduk, Dakal buah
    beruang satu, putih kekuningan.
    Buah : Buni, bulat memanjang, berdaging, masih muda
    hijau setelah iua jingga.
    Biji : Bulat atau bulat panjang, kecil, bagian luar dibungkus selaput yang berisi cairan, masih muda putih setelah tua hitam.
    Akar : Tunggang, bercabang, bulat, putih kekuningan.

    Pada umumnya tanaman pepaya berkembang biak melalui biji, dan untuk mendapatkan tanaman pepaya yang unggul dan tahan pada hama penyakit tanaman ini dikembang biakan melalui perkawinan silang dan kultur jaringan. Sedangkan untuk pengembangbiakan dengan vegetatif biasa seperti mencangkok jarang dilakukan karena bentuk batang tidak berkayu. Namun ada juga tanaman dari jenis pepaya yang pengembangbiakannya dilakukan dengan menyetek cabang batang yaitu Karika (Carica pubescens) sedangkan di Bali dikenal sebagai gedang memedi. Tanaman ini hanya tumbuh di daerah pegunungan tinggi. Karika berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan, dan tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.500 – 3.000 meter dari permukaan laut (dpl). Sosok tanaman ini tidak berbeda dengan tanaman pepaya lainnya, namun umumnya tanaman ini bercabang banyak, dan buahnya kecil-kecil sebesar gepalan tangan yang keluar dari batang. Budidaya dilakukan dengan menanam biji, tetapi di Dieng masyarakat setempat lebih suka perbanyakan dengan stek. Sara budidaya vegetatif ini tergolong yang unik untuk tanaman pepaya.

    Diambil dari : Chan. 1994. Penanaman Betik. MARDI. Kualalumpur,
    Malaysia.

    Jadi berdasarkan bacaan yang diatas Ini membuktikan bahwa pepaya merupakan tanaman dikotil dan dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif.

    tolong kasih koment ya bu!!!!

  8. mat malam bu,,,,
    saya arief dan roma kirim tugas vegetatif…
    tadinya kirim sendiri-sendiri tapi gak tau apa udah masuk atau belum ke comment blog ibu…..
    masalahnya dikirim dua masuknya cuma satu, yang prtama masuk jadi hilang. maaf ya bu….! kami masih gaptek.

    1. Apakah pepaya tumbuhan monokotil atau dikotil?
    2. Apakah pepaya dapat dikembangkan melalui cara vegetatif?
    Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya.

    Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

    1. Bentuk akar
    - Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
    - Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang
    2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
    - Monokotil : Melengkung atau sejajar
    - Dikotil : Menyirip atau menjari
    3. Kaliptrogen / tudung akar
    - Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
    - Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar
    4. Jumlah keping biji atau kotiledon
    - Monokotil : satu buah keping biji saja
    - Dikotil : Ada dua buah keping biji
    5. Kandungan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak terdapat kambium
    - Dikotil : Ada kambium
    6. Jumlah kelopak bunga
    - Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
    - Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
    7. Pelindung akar dan batang lembaga
    - Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar
    lembaga / keleorhiza
    - Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
    8. Pertumbuhan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    - Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    9. Contoh tumbuhan
    - Monokotil : Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem
    dan lain – lain.
    - Dikotil : Pepaya, Kacang Tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing,
    Beringin, Jati, Mahoni dan lain – lain.

    Diambil dari : Broto, W., Suyanti, dan Sjaefuloh. 1991. Karakterisasi varietas untuk standarisasi mutu buah pepaya (Carica papaya L). Jurnal Hortikultura 1(2):41-44.

    Klasifikasi Pepaya
    Divisi : Spermatophyta
    Sub divisi : Angiospermae
    Kelas : Dicotyledonae
    Bangsa : Cistales
    Suku : Caricaceae
    Marga : Carica
    Jenis : Carica papaya L

    Habitus : Perdu, tinggi ± 10 m.
    Batang : Tidak berkayu, silindris, berongga, putih kotor.
    Daun : tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi
    bergerigi, diameter 25-75 cm, pertulangan menjari,
    panjang tangkai 25-100 cm, hijau.
    Bunga : Tunggal, bentuk bintang, di ketiak daun, berkelamin
    satu atau berumah dua. Bunga jantan terletak pada
    landan yang serupa malai, kelopak kecil, kepala
    sari berlangkai pendek atau duduk, kuning, mahkota
    bentuk terompet, tepi bertaju lima, bertabung panjang,
    putih kekuningan Bunga betina berdin sendiri,
    mahkota lepas, kepala putik lima, duduk, Dakal buah
    beruang satu, putih kekuningan.
    Buah : Buni, bulat memanjang, berdaging, masih muda
    hijau setelah iua jingga.
    Biji : Bulat atau bulat panjang, kecil, bagian luar dibungkus selaput yang berisi cairan, masih muda putih setelah tua hitam.
    Akar : Tunggang, bercabang, bulat, putih kekuningan.

    Pada umumnya tanaman pepaya berkembang biak melalui biji, dan untuk mendapatkan tanaman pepaya yang unggul dan tahan pada hama penyakit tanaman ini dikembang biakan melalui perkawinan silang dan kultur jaringan. Sedangkan untuk pengembangbiakan dengan vegetatif biasa seperti mencangkok jarang dilakukan karena bentuk batang tidak berkayu. Namun ada juga tanaman dari jenis pepaya yang pengembangbiakannya dilakukan dengan menyetek cabang batang yaitu Karika (Carica pubescens) sedangkan di Bali dikenal sebagai gedang memedi. Tanaman ini hanya tumbuh di daerah pegunungan tinggi. Karika berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan, dan tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.500 – 3.000 meter dari permukaan laut (dpl). Sosok tanaman ini tidak berbeda dengan tanaman pepaya lainnya, namun umumnya tanaman ini bercabang banyak, dan buahnya kecil-kecil sebesar gepalan tangan yang keluar dari batang. Budidaya dilakukan dengan menanam biji, tetapi di Dieng masyarakat setempat lebih suka perbanyakan dengan stek. Sara budidaya vegetatif ini tergolong yang unik untuk tanaman pepaya.

    Diambil dari : Chan. 1994. Penanaman Betik. MARDI. Kualalumpur,
    Malaysia.

    Jadi berdasarkan bacaan yang diatas Ini membuktikan bahwa pepaya merupakan tanaman dikotil dan dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif.

  9. siang buk…
    ini jawaban tugas kuliah vegetatif..
    tanaman pepaya termasuk tanaman dikotil karena tanaman pepaya secara morfologi mempunyai perakaran tunggang, daun menjari yang merupakan sebagian dari ciri-ciri tanaman dikotil
    sedangkan pembiakan, papaya dapat dibiakkan dengan cara vegetatif seperti stek, kultur jaringan, serta okulasi. namun pembiakan secara vegetatif ini seperti stek jarang dilakukan oleh petani karena tanaman yang dihasilkan akan mempunyai perakaran yang dangkal karena akar yang dihasilkan akar serabut sehingga tidak mudah roboh jika diterjang angin.namun yang umum dilakukan oleh para petani adalah menanam pepaya yang berasal dari biji.

  10. Selamat siang ibu ini tugas vegetatif Sri muryati (D1A107028)
    Pertanyaan 1: pepaya termasuk tanaman dikotil atau monokotil?
    jawab : Tanaman pepaya merupakan tanaman dikotil, hal ini dapat diperjelas dari klasifikasi dan ciri morfologi tanaman pepaya, adapun klasifikasi tanaman pepaya adalah;
    a.Klasifikasi tanaman
    Divisio : Spermathophyta
    Subdivision : Angiospermae
    Class : Dicotyledonae
    SubClass : Sympetalae
    Ordo : Cystales/Parietales
    Famili : Caricaceae
    Genus : Carica
    Spesies : Carica papaya L. (Steenis, 1992)
    dan morfologi yaitu ;
    b.Morfologi tanaman
    Carica papaya L. adalah semak berbentuk pohon dengan batang yang lurus dan bulat. Bagian atas bercabang atau tidak, sebelah dalam berupa spons dan berongga, sebelah luar banyak tanda bekas daun. Tinggi pohon 2,5-10 m, tangkai daun bulat berongga, panjang 2,5-10 m, daun bulat atau bulat telur, bertulang daun menjari, tepi bercangap, berbagi menjari, ujung runcing garis tengah 25-75 cm, sebelah atas berwarna hijau tua, sebelah bawah hijau agak muda daun licin dan suram, pada tiap tiga lingkaran batang terdapat 8 daun. Bunga hampir selalu berkelamin satu atau berumah dua, tetapi kebanyakan dengan beberapa bunga berkelamin dua pada karangan bunga yang jantan. Bunga jantan pada tandan yang serupa malai dan bertangkai panjang, berkelopak sangat kecil mahkota berbentuk terompet berwarna putih kekuningan, dengan tepi yang bertaju lima, dan tabung yang panjang, langsing, taju berputar dalam kuncup, kepala sari bertangkai pendek, dan duduk bunga betina kebanyakan berdiri sendiri, daun mahkota lepas dan hampir lepas, putih kekuningan, bakal buah beruncing satu, kepala putik lima duduk,. Buah buni bulat telur memanjang, biji banyak, dibungkus oleh selaput yang berisi cairan, didalamnya berduri. Berasal dari Amerika, ditanam sebagai pohon buah (Steenis, 1992).
    Tanaman ini dapat dijumpai hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Di Jawa tengah dikenal dengan nama kates, di Sunda dinamakan gedang, orang sulawesi menyebutnya kapaya dan di Ambon dikenal dengan nama papas. dan dapet disimpulkan bahwa tanaman pepaya merupakan tanaman dikotil.
    Pertanyaan 2; Tanaman pepaya dapat di kembang biakkan secara vegetatif ?
    pada zaman dahulu tanaman pepaya banyak di kembang biakaan secara generatif yaitu melalui biji yang sudah tua, namun perkembangab zaman menunjukkan tanaman pepaya juga dapat di kembang biakkan secara vegetatif yang meliputi ;
    1. stek batang pepaya, stek batang tanaman pepaya ini dapat dilakukan denga pemberuana hormon auksin pada batang stek agar proses pertumbuhan nya lebih cepat.
    2.cangkok batang pepaya
    3.okulasi tanaman pepaya
    4.cara sambung
    5. dan kultur jaringan
    Pembiakan pepaya secara vegetatif ini lebih sulit dan rumit oleh karna itu tanaman pepaya lebih banyak di budidayakan dengan menggunakan biji. karna pertumbuhan pepeya dengan menggunakan biji lebih epat dn daya tumbuh nya baik.
    sumber ;
    penebar swada,2001,
    kanisius 1999
    made8 wordpress.com
    Agropri.com

  11. mat malam bu,,,
    kata teman- teman saya tugas yang saya kirim kemarin belum masuk. jadi malam ini saya kirim kembali.
    1. Apakah pepaya tumbuhan monokotil atau dikotil?
    2. Apakah pepaya dapat dikembangkan melalui cara vegetatif?
    Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya.

    Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

    1. Bentuk akar
    - Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
    - Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang
    2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
    - Monokotil : Melengkung atau sejajar
    - Dikotil : Menyirip atau menjari
    3. Kaliptrogen / tudung akar
    - Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
    - Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar
    4. Jumlah keping biji atau kotiledon
    - Monokotil : satu buah keping biji saja
    - Dikotil : Ada dua buah keping biji
    5. Kandungan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak terdapat kambium
    - Dikotil : Ada kambium
    6. Jumlah kelopak bunga
    - Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
    - Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
    7. Pelindung akar dan batang lembaga
    - Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar
    lembaga / keleorhiza
    - Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
    8. Pertumbuhan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    - Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    9. Contoh tumbuhan
    - Monokotil : Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem
    dan lain – lain.
    - Dikotil : Pepaya, Kacang Tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing,
    Beringin, Jati, Mahoni dan lain – lain.

    Diambil dari : Broto, W., Suyanti, dan Sjaefuloh. 1991. Karakterisasi varietas untuk standarisasi mutu buah pepaya (Carica papaya L). Jurnal Hortikultura 1(2):41-44.

    Klasifikasi Pepaya
    Divisi : Spermatophyta
    Sub divisi : Angiospermae
    Kelas : Dicotyledonae
    Bangsa : Cistales
    Suku : Caricaceae
    Marga : Carica
    Jenis : Carica papaya L

    Habitus : Perdu, tinggi ± 10 m.
    Batang : Tidak berkayu, silindris, berongga, putih kotor.
    Daun : tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi
    bergerigi, diameter 25-75 cm, pertulangan menjari,
    panjang tangkai 25-100 cm, hijau.
    Bunga : Tunggal, bentuk bintang, di ketiak daun, berkelamin
    satu atau berumah dua. Bunga jantan terletak pada
    landan yang serupa malai, kelopak kecil, kepala
    sari berlangkai pendek atau duduk, kuning, mahkota
    bentuk terompet, tepi bertaju lima, bertabung panjang,
    putih kekuningan Bunga betina berdin sendiri,
    mahkota lepas, kepala putik lima, duduk, Dakal buah
    beruang satu, putih kekuningan.
    Buah : Buni, bulat memanjang, berdaging, masih muda
    hijau setelah iua jingga.
    Biji : Bulat atau bulat panjang, kecil, bagian luar dibungkus selaput yang berisi cairan, masih muda putih setelah tua hitam.
    Akar : Tunggang, bercabang, bulat, putih kekuningan.

    Pada umumnya tanaman pepaya berkembang biak melalui biji, dan untuk mendapatkan tanaman pepaya yang unggul dan tahan pada hama penyakit tanaman ini dikembang biakan melalui perkawinan silang dan kultur jaringan. Sedangkan untuk pengembangbiakan dengan vegetatif biasa seperti mencangkok jarang dilakukan karena bentuk batang tidak berkayu. Namun ada juga tanaman dari jenis pepaya yang pengembangbiakannya dilakukan dengan menyetek cabang batang yaitu Karika (Carica pubescens) sedangkan di Bali dikenal sebagai gedang memedi. Tanaman ini hanya tumbuh di daerah pegunungan tinggi. Karika berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan, dan tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.500 – 3.000 meter dari permukaan laut (dpl). Sosok tanaman ini tidak berbeda dengan tanaman pepaya lainnya, namun umumnya tanaman ini bercabang banyak, dan buahnya kecil-kecil sebesar gepalan tangan yang keluar dari batang. Budidaya dilakukan dengan menanam biji, tetapi di Dieng masyarakat setempat lebih suka perbanyakan dengan stek. Sara budidaya vegetatif ini tergolong yang unik untuk tanaman pepaya.

    Diambil dari : Chan. 1994. Penanaman Betik. MARDI. Kualalumpur,
    Malaysia.

    Jadi berdasarkan bacaan yang diatas Ini membuktikan bahwa pepaya merupakan tanaman dikotil dan dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif.

  12. malam buk,,, saya mau kirim kembali tugas minggu lalu. karena kata teman-teman belum terkirim yang saya kirim kemarin.
    1. Apakah pepaya tumbuhan monokotil atau dikotil?
    2. Apakah pepaya dapat dikembangkan melalui cara vegetatif?
    Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya.

    Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki :

    1. Bentuk akar
    - Monokotil : Memiliki sistem akar serabut
    - Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang
    2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
    - Monokotil : Melengkung atau sejajar
    - Dikotil : Menyirip atau menjari
    3. Kaliptrogen / tudung akar
    - Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra
    - Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar
    4. Jumlah keping biji atau kotiledon
    - Monokotil : satu buah keping biji saja
    - Dikotil : Ada dua buah keping biji
    5. Kandungan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak terdapat kambium
    - Dikotil : Ada kambium
    6. Jumlah kelopak bunga
    - Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
    - Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima
    7. Pelindung akar dan batang lembaga
    - Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar
    lembaga / keleorhiza
    - Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil
    8. Pertumbuhan akar dan batang
    - Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    - Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
    9. Contoh tumbuhan
    - Monokotil : Kelapa, Jagung, Padi, Pinang, Bambu, Tebu, Palem
    dan lain – lain.
    - Dikotil : Pepaya, Kacang Tanah, Mangga, Rambutan, Belimbing,
    Beringin, Jati, Mahoni dan lain – lain.

    Diambil dari : Broto, W., Suyanti, dan Sjaefuloh. 1991. Karakterisasi varietas untuk standarisasi mutu buah pepaya (Carica papaya L). Jurnal Hortikultura 1(2):41-44.

    Klasifikasi Pepaya
    Divisi : Spermatophyta
    Sub divisi : Angiospermae
    Kelas : Dicotyledonae
    Bangsa : Cistales
    Suku : Caricaceae
    Marga : Carica
    Jenis : Carica papaya L

    Habitus : Perdu, tinggi ± 10 m.
    Batang : Tidak berkayu, silindris, berongga, putih kotor.
    Daun : tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh, tepi
    bergerigi, diameter 25-75 cm, pertulangan menjari,
    panjang tangkai 25-100 cm, hijau.
    Bunga : Tunggal, bentuk bintang, di ketiak daun, berkelamin
    satu atau berumah dua. Bunga jantan terletak pada
    landan yang serupa malai, kelopak kecil, kepala
    sari berlangkai pendek atau duduk, kuning, mahkota
    bentuk terompet, tepi bertaju lima, bertabung panjang,
    putih kekuningan Bunga betina berdin sendiri,
    mahkota lepas, kepala putik lima, duduk, Dakal buah
    beruang satu, putih kekuningan.
    Buah : Buni, bulat memanjang, berdaging, masih muda
    hijau setelah iua jingga.
    Biji : Bulat atau bulat panjang, kecil, bagian luar dibungkus selaput yang berisi cairan, masih muda putih setelah tua hitam.
    Akar : Tunggang, bercabang, bulat, putih kekuningan.

    Pada umumnya tanaman pepaya berkembang biak melalui biji, dan untuk mendapatkan tanaman pepaya yang unggul dan tahan pada hama penyakit tanaman ini dikembang biakan melalui perkawinan silang dan kultur jaringan. Sedangkan untuk pengembangbiakan dengan vegetatif biasa seperti mencangkok jarang dilakukan karena bentuk batang tidak berkayu. Namun ada juga tanaman dari jenis pepaya yang pengembangbiakannya dilakukan dengan menyetek cabang batang yaitu Karika (Carica pubescens) sedangkan di Bali dikenal sebagai gedang memedi. Tanaman ini hanya tumbuh di daerah pegunungan tinggi. Karika berasal dari dataran tinggi Andes di Amerika Selatan, dan tumbuh di daerah dengan ketinggian 1.500 – 3.000 meter dari permukaan laut (dpl). Sosok tanaman ini tidak berbeda dengan tanaman pepaya lainnya, namun umumnya tanaman ini bercabang banyak, dan buahnya kecil-kecil sebesar gepalan tangan yang keluar dari batang. Budidaya dilakukan dengan menanam biji, tetapi di Dieng masyarakat setempat lebih suka perbanyakan dengan stek. Sara budidaya vegetatif ini tergolong yang unik untuk tanaman pepaya.

    Diambil dari : Chan. 1994. Penanaman Betik. MARDI. Kualalumpur,
    Malaysia.

    Jadi berdasarkan bacaan yang diatas Ini membuktikan bahwa pepaya merupakan tanaman dikotil dan dapat dikembangbiakan dengan cara vegetatif.

  13. mat siang buk ini tugas praktikum roma

    Budidaya Pertanian
    D U R I A N
    ( Bombaceae sp. )

    1. SEJARAH SINGKAT
    Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.

    Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).
    2. JENIS TANAMAN
    Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia.

    Ada puluhan durian yang diakui keunggulannya oleh Menteri Pertanian dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan. Macam varietas durian tersebut adalah: durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), otong (Thailand), kani (Thailand), sidodol (Kalimantan Selatan), sijapang (Betawi) dan sihijau (Kalimantan Selatan).
    3. MANFAAT TANAMAN
    Manfaat durian selain sebagai makanan buah segar dan olahan lainnya, terdapat manfaat dari bagian lainnya, yaitu:
    1. Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.
    2. Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.
    3. Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).
    4. Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan. cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.

    4. SENTRA PENANAMAN
    Di Indonesia, tanaman durian terdapat di seluruh pelosok Jawa dan Sumatra. Sedangkan di Kalimantan dan Irian Jaya umumnya hanya terdapat di hutan, di sepanjang aliran sungai. Di dunia, tanaman durian tersebar ke seluruh Asia Tenggara, dari Sri Langka, India Selatan hingga New Guenea. Khusus di Asia Tenggara, durian diusahakan dalam bentuk perkebunan yang dipelihara intensif oleh negara Thailand.

    Jumlah produksi durian di Filipina adalah 16.700 ton (2.030 ha), di Malaysia 262.000 ton (42.000 ha) dan di Thailand 444.500 ton (84.700 ha) pada tahun 1987-1988. Di Indonesia pada tahun yang sama menghasilkan 199.361 ton (41.284 ha) dan pada tahun 1990 menghasilkan 275.717 ton (45.372 ha).
    5. SYARAT TUMBUH
    5.1. Iklim
    1. Curah hujan untuk tanaman durian maksimum 3000-3500 mm/tahun dan minimal 1500-3000 mm/tahun. Curah hujan merata sepanjang tahun, dengan kemarau 1-2 bulan sebelum berbunga lebih baik daripada hujan terus menerus.
    2. Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan durian adalah 60-80%. Sewaktu masih kecil (baru ditanam di kebun), tanaman durian tidak tahan terik sinar matahari di musim kemarau, sehingga bibit harus dilindungi/dinaungi.
    3. Tanaman durian cocok pada suhu rata-rata 20-30°C. Pada suhu 15°C durian dapat tumbuh tetapi pertumbuhan tidak optimal. Bila suhu mencapai 35°C daun akan terbakar.

    5.2. Media Tanam
    1. Tanaman durian menghendaki tanah yang subur (tanah yang kaya bahan organik). Partikel penyusunan tanah seimbang antara pasir liat dan debu sehingga mudah membentuk remah.
    2. Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan ondosol. Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas bebutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal, dan kemampuan mengikat air tinggi.
    3. Derajat keasaman tanah yang dikehendaki tanaman durian adalah (pH) 5-7, dengan pH optimum 6-6,5.
    4. Tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam, maka membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup, (50-150 cm) dan (150-200 cm). Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ dalam, rasa buah tidak manis/tanaman akan kekeringan/akarnya busuk akibat selalu tergenang.

    5.3. Ketinggian Tempat
    Ketinggian tempat untuk bertanam durian tidak boleh lebih dari 800 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam diberbagai ketinggian. Tanah yang berbukit/yang kemiringannya kurang dari 15 kurang praktis daripada lahan yang datar rata.

    6. PEDOMAN BUDIDAYA
    6.1. Pembibitan
    1. Persyaratan Benih
    Biji untuk bibit dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan:
    a) Asli dari induknya.
    b) Segar dan sudah tua.
    c) Tidak kisut.
    d) Tidak terserang hama dan penyakit.
    2.
    3. Penyiapan Benih
    Pernanyakatan tanaman durian dapat dilakukan melalui cara generatif (dengan
    biji) atau vegetatif (okulasi, penyusuan atau cxangkokan).
    a) Pengadaan benih dengan cara generatif
    Memilih biji-biji yang tulen/murni dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar daging buah yang menempel terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka, tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak berkecambah/rusak dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan dengan baik (dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kurun waktu 2-3 minggu sesudah diambil dari buahnya. Setelah itu biji ditanam.
    b) Pengadaan bibit dengan cara okulasi
    Persyaratan biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sehat dan tua, dari tanaman induk yang sehat dan subur, sistem perakaran bagus dan produktif. Biji yang ditumbuhkan, dipilih yang pertumbuhannya sempurna.
    Setelah umur 8-10 bulan, dapat diokulasi, dengan cara:
    1. Kulit batang bawah disayat, tepat di atas matanya (± 1 cm). Dipilih mata tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah.
    2. Sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga mirip lidah.
    3. Kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3-nya.
    4. Sisipan “mata” yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disayat dibentuk perisai) diantara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau atau tidak.
    Bila berwarna hijau, berarti okulasi berhasil, jika coklat, berarti okulasi gagal.

    c) Penyusunan
    5. Model tusuk/susuk
    - Tanaman calon batang atas dibelah setengah bagian menuju kearah pucuk. Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk. Tanaman calon batang bawah sebaiknya memiliki diameter sama dengan batang atasnya. Tajuk calon batang bawah dipotong dan dibuang, kemudian disayat sampai runcing. Bagian yang runcing disisipkan kebelahan calon batang atas yang telah dipersiapkan. Supaya calon batang bawah tidak mudah lepas, sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali rafia.
    - Selama masa penyusuan batang yang disatukan tidak boleh bergeser. Sehingga, tanaman batang bawah harus disangga atau diikat pada tanaman induk (batang tanaman yang besar) supaya tidak goyah setelah dilakukan penyambungan. Susuan tersebut harus disiram agar tetap hidup. Biasanya, setelah 3-6 bulan tanaman tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya, tergantung dari usia batang tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang kayunya belum keras sudah bisa dipisahkan setelah 3 bulan. Penyambungan model tusuk atau susuk ini dapat lebih berhasil kalau diterapkan pada batang tanaman yang masih muda atau belum berkayu keras.
    6. Model Sayatan
    - Pilih calon batang bawah (bibit) dan calon batang atas dari pohon induk yang sudah berbuah dan besarnya sama.
    - Kedua batang tersebut disayat sedikit sampai bagian kayunya. Sayatan pada kedua batang tersebut diupayakan agar bentuk dan besarnya sama.
    - Setelah kedua batang tersebut disayat, kemudian kedua batang itu ditempel tepat pada sayatannya dan diikat sehingga keduanya akan tumbuh bersama-sama.
    - Setelah 2-3 minggu, sambungan tadi dapat dilihat hasilnya kalau batang atas dan batang bawah ternyata bisa tumbuh bersama-sama berarti penyusuan tersebut berhasil.
    - Kalau sambungan berhasil, pucuk batang bawah dipotong/dibuang, pucuk batang atas dibiarkan tumbuh subur. Kalau pertumbuhan pucuk batang atas sudah sempurna, pangkal batang atas juga dipotong.
    - Maka akan terjadi bibit durian yang batang bawahnya adalah tanaman biji, sedangkan batang atas dari ranting/cabang pohon durian dewasa.
    7.

    d) Cangkokan
    Batang durian yang dicangkok harus dipilih dari cabang tanaman yang sehat, subur, cukup usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter=2–2,5 cm), kulit masih hijau kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok adalah sebagai berikut:
    8. Pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih hijau kecoklatan.
    9. Sayap kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas.
    10. Bersihkan lendir dengan cara dikerok kemudian biarkan kering angin sampai dua hari.
    11. Bagian bekas sayatan dibungkus dengan media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1.
    Media cangkok dibungkus dengan plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar media tidak jatuh.
    12. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan keluar menembus pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan bisa dipotong dan ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang subur.

    4. Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan
    Bibit durian sebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi disemaikan terlebih dahulu ditempat persemaian. Biji durian yang sudah dibersihkan dari daging buah dikering-anginkan sampai kering tidak ada air yang menempel. Biji dikecambahkan dahulu sebelum ditanam di persemaian atau langsung ditanam di polibag. Caranya biji dideder di plastik/anyaman bambu/kotak, dengan media tanah dan pasir perbandingan 1:1 yang diaduk merata. Ketebalan lapisan tanah sekitar 2 kali besar biji (6-8 cm), kemudian media tanam tadi disiram tetapi (tidak boleh terlalu basah), suhu media diupayakan cukup lembab (20-23 derajat C).

    Biji ditanam dengan posisi miring tertelungkup (bagian calon akar tunggang menempel ke tanah), dan sebagian masih kelihatan di atas permukaan tanah (3/4 bagian masih harus kelihatan). Jarak antara biji satu dengan lainnya adalah 2 cm membujur dan 4-5 cm melintang. Setelah biji dibenamkan, kemudian disemprot dengan larutan fungisida, kemudian kotak sebelah atas ditutup plastik supaya kelembabannya stabil. Setelah 2-3 minggu biji akan mengeluarkan akar dengan tudung akar langsung masuk ke dalam media yang panjangnya ± 3-5 cm. Saat itu tutup plastik sudah bisa dibuka. Selanjutnya, biji-biji yang sudah besar siap dibesarkan di persemaian pembesar atau polibag.
    5. Pemindahan Bibit
    Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya sudah tumbuh setinggi 75-150 cm atau berumur 7 – 9 bulan setelah diokulasi, kondisinya sehat dan pertumbuhannya bagus. Hal ini tercermin dari pertumbuhan batang yang kokoh, perakarannya banyak dan kuat, juga adanya helaian daun dekat pucuk tanaman yang telah menebal dan warnanya hijau tua.

    6.2. Pengolahan Media Tanam
    1. Persiapan
    Penanaman durian, perlu perencanaan yang cermat. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengukuran pH tanah, analisis tanah, penetapan waktu/jadwal tanam, pengairan, penetapan luas areal penanaman, pengaturan volume produksi.
    2. Pembukaan Lahan
    Pembersihan dan pengolahan lahan dilakukan beberapa minggu sebelum penanaman bibit berlangsung. Batu-batu besar, alang-alang, pokok-pokok batang pohon sisa penebangan disingkirkan. Perlu dibersihkan dari tanaman liar yang akan menganggu pertumbuhan.
    3. Pembentukan Bedengan
    Tanah untuk bedengan pembesaran harus dicangkul dulu sedalam 30 cm hingga menjadi gembur, kemudian dicampur dengan pasir dan kompos yang sudah jadi.
    Untuk ukuran bedengan lebar 1 m panjang 2 m, diberi 5 kg pasir dan 5 kg pupuk kompos. Setelah tanah, pasir dan kompos tercampur merata dan dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat itu juga tanah disemprot Vapan/Basamid untuk mencegah serangan jamur/bakteri pembusuk jamur.

    Di sekeliling bedengan, perlu dibuatkan saluran untuk penampung air. Jika bedengan sudah siap, biji yang telah tumbuh akarnya tadi segera ditanam dengan jarak tanam 20 x 30 cm. Penanaman biji durian dilakukan dengan cara dibuatkan lubang tanam sebesar biji dan kedalamannya sesuai dengan panjang akar masing-masing. Setelah biji tertanam semua, bagian permukaan bedengan ditaburi pasir yang dicampur dengan tanah halus (hasil ayakan) setebal 5 cm.
    4. Pengapuran
    Keadaan tanah yang kurang subur, misalnya tanah podzolik (merah kuning) dan latosol (merah-coklat-kuning), yang cenderung memiliki pH 5 – 6 dan penyusunannya kurang seimbang antara kandungan pasir, liat dan debu, dapat diatasi dengan pengapuran. Sebaiknya dilakukan menjelang musim kemarau, dengan kapur pertanian yang memiliki kadar CaCO3 sampai 90%.

    Dua sampai 4 minggu sebelum pengapuran, sebaiknya tanah dipupuk dulu dan dilsiram 4-5 kali. Untuk mencegah kekurangan unsur Mg dalam tanah, sebaiknya dua minggu setelah pengapuran, segera ditambah dolomit.

    6.3. Teknik Penanaman
    1. Penentuan Pola Tanam
    Jarak tanam sangat tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, kultivar durian, serta sistem budidaya yang diterapkan. Untuk kultivar durian berumur genjah, jarak tanam: 10 m x 10 m. Sedangkan kultivar durian berumur sedang dan dalam jarak tanam 12 m x 12 m.

    Intensifikasi kebun durian, terutama waktu bibit durian masih kecil (berumur kurang dari 6 tahun), dapat diupayakan dengan budidaya tumpangsari. Berbagai budidaya tumpangsari yang biasa dilakukan yakni dengan tanaman horti (lombok, tomat, terong dan tanaman pangan: padi gogo, kedelai, kacang tanah dan ubi jalar.
    2. Pembuatan Lubang Tanam
    Pengolahan tanah terutama dilakukan di lubang yang akan digunakan untuk menanam bibit durian. Lubang tanam dipersiapkan 1 m x 1 m x 1 m. Saat menggali lubang, tanah galian dibagi menjadi dua. Sebelah atas dikumpulkan di kiri lubang, tanah galian sebelah bawah dikumpulkan di kanan lubang. Lubang tanam dibiarkan kering terangin-angin selama ± 1 minggu, lalu lubang tanam ditutup kembali.

    Tanah galian bagian atas lebih dahulu dimasukkan setelah dicampur pupuk kompos 35 kg/lubang, diikuti oleh tanah bagian bawah yang telah dicampur 35 kg pupuk kandang dan 1 kg fospat.

    Untuk menghindari gangguan rayap, semut dan hama lainnya dapat dicampurkan insektisida butiran seperti Furadan 3 G. Selanjutnya lubang tanam diisi penuh sampai tampak membukit setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah. Tanah tidak perlu dipadatkan. Penutupan lubang sebaiknya dilakukan 7-15 hari sebelum penanaman bibit.
    3. Cara Penanaman
    Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya tumbuh 75-150 cm, kondisinya sehat, pertumbuhan bagus, yang tercermin dari batang yang kokoh dan perakaran yang banyak serta kuat.

    Lubang tanam yang tertutup tanah digali kembali dengan ukuran yang lebih kecil, sebesar gumpalan tanah yang membungkus akar bibit durian. Setelah lubang tersedia, dilakukan penanaman dengan cara sebagai berikut :
    a) Polybag/pembungkus bibit dilepas (sisinya digunting/diiris hati-hati)
    b) Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam sampai batas leher
    c) Lubang ditutup dengan tanah galian. Pada sisi tanaman diberi ajir agar pertumbuhan tanaman tegak ke atas sesuai arah ajir.
    d) Pangkal bibit ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram air.
    e) Di atas bibit dapat dibangun naungan dari rumbia atau bahan lain. Naungan ini sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering tersengat sinar matahari secara langsung.
    4.
    5. Pemupukan
    Sebelum melakukan pemupukan kita harus melihat keadaan tanah, kebutuhan tanaman akan pupuk dan unsur hara yang terkandung dalam tanah.
    a) Cara memupuk
    Pada tahap awal buatlah selokan melingkari tanaman. Garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm. Tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan. Setelah itu tanah diratakan kembali, bila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman.
    b) Jenis dan dosis pemupukan
    Jenis pupuk yang digunakan untuk memupuk durian adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta pupuk buatan. Pemupukan yang tepat dapat membuat tanaman tumbuh subur. Setelah tiga bulan ditanam, durian membutuhkan pemupukan susulan NPK (15:15:15) 200 gr perpohon. Selanjutnya, pemupukan susulan dengan NPK itu dilakukan rutin setiap empat bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun.
    6.
    Setahun sekali tanaman dipupuk dengan pupuk organik kompos/pupuk kandang 60-100 kg per pohon pada musim kemarau. Pemupukan dilakukan dengan cara menggali lubang mengelilingi batang bawah di bawah mahkota tajuk paling luar dari tanaman.

    Tanaman durian yang telah berumur = 3 tahun biasanya mulai membentuk batang dan tajuk. Setelah itu, setiap tahun durian membutuhkan tambahan 20–25% pupuk NPK dari dosis sebelumnya.

    Apabila pada tahun ke-3, durian diberi pupuk 500 gram NPK per pohon maka pada tahun ke-4 dosisnya menjadi 600-625 gram NPK per pohon. Kebutuhan pupuk kandang juga meningkat, berkisar antara 120-200 kg/pohon menjelang berbunga durian membutuhkan NPK 10:30:10. Pupuk ini ditebarkan pada saat tanaman selesai membentuk tunas baru (menjelang tanaman akan berbunga).
    7. Pengairan dan Penyiraman
    Durian membutuhkan banyak air pada pertumbuhannya, tapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama atau sampai terlalu basah. Bibit durian yang baru ditanam membutuhkan penyiraman satu kali sehari, terutama kalau bibit ditanam pada musim kemarau. Setelah tanaman berumur satu bulan, air tanaman dapat dikurangi sekitar tiga kali seminggu.

    Durian yang dikebunkan dengan skala luas mutlak membutuhkan tersedianya sumber air yang cukup. Dalam pengairan perlu dibuatkan saluran air drainase untuk menghindari air menggenangi bedengan tanaman.
    8. Waktu Penyemprotan Pestisida
    Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman yang baik, setiap 2 minggu sekali bibit disemprot zat pengatur tumbuh Atonik dengan dosis 1 cc/liter air dan ditambah dengan Metalik dengan dosis 0,5 cc/liter air. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih sempurna.

    Jenis insektisida yang digunakan adalah Basudin yang disemprot sesuai aturan yang ditetapkan dan berguna untuk pencegahan serangga.

    Untuk cendawan cukup melaburi batang dengan fungisida (contohnya Dithane atau Antracol) agar sehat. Lebih baik bila pada saat melakukan penanaman, batang durian dilaburi oleh fungisida tersebut.
    9. Pemeliharan Lain
    Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berfungsi mempengaruhi jaringan-jaringan pada berbagai organ tanaman. Zat ini sama sekali tidak memberikan unsur tambahan hara pada tanaman. ZPT dapat membuat tanaman menjadi lemah sehingga penggunannya harus disesuaikan dengan petunjuk pemakaian yang tertera pada label yang ada dalam kemasan, sebab pemakaian ZPT ini hanya dicampurkan saja.

    12. DAFTAR PUSTAKA
    1. AAK. Bertanam Pohon Buah-buahan II. Kanisius : Yogyakarta, 1997.
    2. AAK. Budi daya Durian. Kanisius : Yogyakarta, 1997.
    3. Rambe, Sri Suryani Maphilindowati. “ Pasca Panen Buah Durian “. Trubus, 1988
    4. Redaksi Trubus. Berkebun Durian Ala Petani Thailand. Jakarta : Penebar
    Swadaya, 1998.
    5. _____________ Mengebunkan Durian Unggul. Jakarta : Penebar Swadaya, 1997

  14. siang bu’, ni tugas saya:

    MENCANGKOK TANAMAN

    Ada lima cara perbanyakan vegetatif buatan untuk tanaman buah yang sudah dikenal oleh para penangkar bibit dan petani yaitu cara penyambungan, okulasi, penyusuan, cangkok dan setek.
    Mencangkok atau okulasi adalah teknik pengembangbiakan tanaman yang sangat cocok untuk di tanam di dalam pot. Di samping karena kualitas buahnya terjaga sama seperti induknya juga nantinya pohon tumbuh tidak terlalu tinggi. Pohon yang dikembangbiakan dengan teknik cangkok tidak akan mempunyai akar tunggang.
    Tanaman yg dapat dicangkok adalah tanaman buah berkayu keras atau berkambium. Contoh : Mangga, jambu, jambu air, jeruk, belimbing, apel, sawo, dll.
    Alat-alat yg diperlukan :
    1. Pisau yg kuat dan tajam.
    2. Serabut kelapa atau plastik kresek.
    3. Tali atau karet ban dalam bekas.
    4. paku panjang 10 cm.
    5. Ember atau apa saja media lain utk menampung air.
    6. kursi/tangga/stegger, jika cabang terlalu tinggi.
    7. Campuran tanah subur : Pupuk kandang : serabuk gergaji perbandingan 1:1:1
    Langkah-langkah mencangkok :
    1. Pertama, pastikan bahwa induk semang tanaman adalah dari varietas unggul, agar hasilnya nanti adalah bibit unggul juga.
    2. Tentukan cabang yg lurus dan cukup besar agar nanti pohon cukup kuat utk mandiri. Kira-kira sebesar pergelangan tangan anak atau berdiameter 3 cm.
    3. Selanjutnya, kerat pangkal cabang menggunakan pisau. Kerat sekali lagi dari keratan pertama berjarak sekitar satu kepalan tangan atau 5 cm.
    4. Buang kulit antara keratan tadi.
    5. Setelah kulit kayu bersih, kerok lendir/getah sampai bersih dan kayu tidak licin lagi.
    6. Ambil serabut kelapa atau plastik secukupnya ikat bagian bawah dulu.
    7. Bentuk sedemikian rupa sehingga membentuk penampung, isi dengan campuran tanah yg sudah dipersiapkan. Isian harus cukup padat dengan cara ditekan-tekan.
    8. Ikat bagian atas serabut atau plastik dan pastikan campuran tanah tertutup rapat.
    9. Buat lubang-lubang utk pembuangan air berjarak 1 cm antar lubangnya (jika medianya adalah plastik).
    10. Siram air sampai air menetes dari cangkokan.
    Tunggulah sekitar 4-6 minggu sebelum cangkokan siap dipisahkan dari induknya. Ingat selalu untuk menyirami cangkokan setiap pagi dan sore hari. Untuk memastikan bahwa tanaman yg dicangkok sudah jadi, check apakah sudah keluar akar yg cukup banyak, biasanya sampai menembuas plastik atau serabut pembungkus.
    Jika kondisi ini sudah memenuhi syarat, potong tanaman dari induknya. Sebaiknya memotong menggunakan gergaji agar tanaman tidak rusak.
    Kurangi daun dan ranting. sisakan beberapa lembar daun saja.

    KLENGKENG

    1. PENDAHULUAN

    Klengkeng merupakan tanaman yang telah sejak lama dikenal dan lazim ditanam oleh masyarakat sebagai tanaman pagar pembatas lahan dan tanaman pekarangan. Tanaman ini dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat, tidak memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara budidaya sederhana dapat tumbuh dan berproduksi baik. Namun demikian kendala utama yang membatasi perkembangan populasinya ialah kematian tanaman muda pada musim kemarau, hal ini mengisyaratkan pentingnya teknologi pembibitan dan penanaman bibit serta ketersediaan air pada musim kemarau.
    Secara ekonomi/finansial, usahatani klengkeng sangat menguntungkan. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah klengkeng, dapat dilaksanakan melalui Konsepsi Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan (SPAKU) Klengkeng yang didukung oleh adanya pusat pembibitan yang dapat diandalkan oleh masyarakat.

    (2). Budidaya Tanaman Klengkeng

    (a). Cara penanaman
    Pada kondisi lahan kering, biasanya penambahan bahan organik dan pupuk kandang cukup sulit dilaksanakan. Untuk ini diperlu¬kan persiapan tanam yang memadai. Persiapan ini meliputi pembu¬atan lubang tanam jauh sebelum saat tanam bibit, penanaman pohon pelindung leguminosa, dan pemeliharaan bibit sebelum dibawa ke lapangan. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, dan pembuatan lubang tanam 2-3 bulan sebelumnya. Penutupan lubang tanam dilakukan setelah ada hujan dengan tanah galian yang dicampur dengan pupuk kandang, abu, dan Furadan untuk mencegah berkembangnya hama.

    (b). Penataan tanaman
    Penataan tanaman ini dimaksudkan untuk dapat mendukung usaha konservasi tanah dan air dengan memberikan media tumbuh yang optimal bagi tanaman tahunan dan tanaman semusim di bawahnya, sesuai dengan kemiringan lahan. Teladan penataan tanaman campuran Klengkeng dengan tanaman sela semusim sbb:

    No Uraian Pola I (slope 45%)
    1. Teknik konservasi Teras bangku/gulud +LTC+rumput Teras individu+LTC+rumput
    2. Proporsi annual 75% 0%
    3. Proporsi perennial 25% 100%
    4. Tata tanaman tahunan Gol I
    Populasi/ha 25 pohon 100 pohon
    Jarak tanam 12 x 32 m 12 x 8 m
    Lubang tanam 75 x 75 x 75 cm3 75 x 75 x 75 cm3
    Dosis rabuk 75-100 kg/tanaman 75-100 kg/tanaman
    Arah tanaman Timur-barat / kontur Kontur
    5. Tata tanaman tahunan Golongan II
    Populasi/ha 160 pohon 625 pohon
    Jarak tanam 3 x 3 m Barisan
    Lubang tanam 50 x 50 x 50 cm3 50 x 50 x 50 cm3
    Dosis rabuk 20- 40 kg/tanaman 20- 40 kg/tanaman
    Arah tanaman Timur-barat / kontur Kontur
    Sumber: UACP-FSR, 1990.

    (c). Perbanyakan Tanaman

    A. Pembiak Generatif
    Pembiakan dengan biji mempunyai banyak keuntungan, antara lain: murah dan mudah penyimpanannya untuk jangka waktu yang lama. Biji yang disimpan dalam keadaan kering dan dingin, tetap mem¬punyai daya hidup (viabilitas). Pembiakan secara generatif (biji) juga berguna untuk memulai suatu tanaman yang “bebas penyakit”, terutama penyakit virus, sebab kebanyakan penyakit virus ditularkan melalui biji. Tanaman yang berasal dari biji pada umumnya mempunyai sifat-sifat sebagai : (1) Pohonnya kuat, karena mempunyai susunan akar yang baik; (2) Umurnya panjang, walaupun tanaman tersebut lambat berbunga; (3) Sering terjadi perubahan (penyimpangan) dari sifat induk¬nya, karena adanya penyerbukan silang.

    Pemilihan biji
    Biji klengkeng yang akan dijadikan benih harus dipilih dari buah yang berasal dari induk lengkeng yang kuat, pertumbuhannya subur, buahnya lebat dan unggul. Biji tersebut harus utuh (tidak cacat), kulitnya licin dan mengkilat, ukurannya besar, berasal dari buah yang benar-benar sudah tua, dari jenis leng¬keng yang daging buahnya yang mudah dikelonthok, dan manis rasanya. Sebelum siap disemaikan, biji-biji harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara diangin-anginkan. Biji-biji terse¬but tidak boleh dijemur pada panas matahari secara langsung, agar penguapan kandungan air di dalam biji jangan sampai terlalu besar.

    Penyemaian
    Biji lengkeng disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam di lapangan agar bisa diseleksi daya pertumbuhannya, sehingga didapatkan bibit lengkeng yang baik. Adapun penyemaian bibit lengkeng dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
    (1). Penyemaian di tanah
    Tanah untuk pesemaian adalah yang subur dan gembur. Ukuran tempat penyemaian dapat dibuat 1 m2 atau lebih menurut jumlah bibit klengkeng yang akan dibutuhkan. Tempat penyemaian harus mendapatkan cukup sinar matahari, terutama pada pagi hari sampai agak siang dan jangan sampai terkena sinar matahari terlalu terik. Tanah biasanya dicangkul sedalam 15 cm, dan diberi campuran pupuk kandang dan pasir secukupnya (Afandie, 1993). Biji-biji dibenamkan ke dalam tanah sehingga permukaan biji tersebut rata dengan permukaan tanah; jarak antara biji yang satu dengan yang lainya sekitar 10 cm. Tanah tempat penyemaian harus diusahakan agara tetap dalam keadaan basah tetapi tidak sampai tergenang air. Kalau biji yang dipilih tersebut memenuhi syarat, dalam waktu satu minggu tentu sudah akan mulai berkecambah. Perawatan kecambah dilakukan dengan penyiraman air secukupnya secara rutin. Gulma yang tumbuh di tempat penyemaian harus selalu dibersihkan dan tanah tempat penyemaian harus selalu diusahakan tetap gembur agar perakarannya dapat tumbuh dengan baik.
    (2). Penyemaian di kotak dengan media pasir
    Penyemaian dengan media pasir dapat menggunakan kotak dari kayu atau kotak dari papan plastik yang sudah banyak dijual di toko-toko. Isilah kotak tersebut dengan pasir yang ketebalannya sekitar 10 cm, kemudian disiram air secukupnya samapai basah, jangan sampai airnya menggenang.
    Setelah semuanya siap, biji lengkeng yang akan kita semaikan dimasukkan ke dalam pasir hingga permukaan biji rata dengan permukaan pasir, dan jarak antara biji satu dengan lainnya sekitar 5 cm. Kemudian kotak penyemaian tersebut kita letakkan di tempat yang mendapat cukup sinar matahari, terutama pagi sampai agak siang hari. Selama penyemaian, pasir harus selalu dijaga agar tetap dalam keadaan basah. Bila biji yang kita pilih memenuhi syarat, dalam waktu satu minggu tentu biji sudah mulai berkecambah.

    Pemindahan Bibit Semaian
    Sebelum pemuindahan bibit dari semaian, terlebih dahulu kita harus menyaipkan keranjang-keranjang yang telah kita isi dengan tanah yang subur atau dengan mencampur 3 bagian tanah dan 1 bagian pupuk kandang atau kompos. Bibit yang telah mencapai ketinggian 20 cm sampai 25 cm dapat dipindahkan ke keranjang-keranjang tersbut. Pemindahan harus kita lakukan dengan hati-hati supaya akar-akarnya tidak terputus. Sebab bila akarnya terputus sedikit saja tanaman akar mengalami stagnasi. Media tanah dalam keranjang harus diusahakan agar selalu tetap dalam keadaan agak basah. Letakkan keranjang yang telah kita tanami bibit lengkeng tersebut di tempat yang agak teduh tetapi selalu mendapat sinar matahari pada pagi hari sampai agak siang hari. Pemeliharaan yang perlu dilakukan selama bibit-bibit itu dalam keranjang adalah mengusahakan agar tanahnya selalu dalam keadaan gembur dan tidak ada gulma. Bibit lengkeng dalam keranjang sduah dapat mulai dipupuk dengan pupuk anorganik dalam dosis ringan, yakni sekitar seperempat sendok teh yang terdiri dari campuran TSP dan Urea dengan perbandingan 1:1.

    B. Pembiakan Vegetatif
    Pengembangan tanaman lengkeng bisa juga dilakukan dengan cara vegetatif. Tujuan dari pengembangan vegetatif ini ialah:
    (1) Untuk mendapatkan tanaman yang serupa dengan indukn¬ya;
    (2) Agar cepat berbuah (Jawa: Genjah);
    (3) Untuk mendapatkan tanaman yang pendek (dwarfing).
    Pembiakan vegetatif dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
    (1) Pencangkokan (marcoteren);
    (2) Penyambungan (enten dan okulasi); dan
    (3) Penyusuan (inarching atau approach grafting).

    Pencangkokan
    Pencangkokan ialah mengusahakan perakaran dari suatu cabang tanaman tanpa memotong cabang tanaman tersebut dari pohon induknya. Beberapa jenis tnaman buah-buahan di Indone¬sia dapat dikembangkan dengan cara pencangkokan ini. Caranya ialah dengan mengerat batang atau cabang tanaman yang akan dicangkok secara melingkar di dua tempat yang jaraknya 5 -10 cm. Kulit pada bagian yang kita kerat tersebut dikupas sampai pada bagian kayunya, sehingga lapisan kambiumnya hilang samasekali. Selanjutnya pada bagian yang kita kupas tersebut ditutup dengan tanah (sebaiknya tanah campur pupuk kandang), kemudian dibalut dengan sabut kelapa atau plastik. Waktu yang baik untuk mencangkok adalah pada musim hujan, namun bisa juga dilakukan pada musim kemarau asal selalu disiram dengan air untuk mencegah kekeringan.
    Setelah berakar, cangkokan dapat diambil. Cara mengam¬bilnya ialah dengan memotong cangkokan di bawah keratan (akar) tersebut. Kemudian bibit cangkokan itu langsung dapat ditanam. Tetapi khusus untuk tanaman lengkeng, cangkokan harus ditanam dahulu dalam keranjang atau pot yang diisi dengan tanah dan pupuk kandang. Selama dalam keranjang, tanahnya harus dijaga agar tetap basah dan ditaruh di tempat yang teduh (tidak mendapatkan sinar matahari secara langsung) agar tidak terjadi penguapan organ cangkokan yang dapat mematikannya. Setelah muncul tunas-tunas atau daun-daun yang baru, cangkokan dapat dipindahkan ke lapangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mencangkok tanaman buah-buahan adalah:
    (1). Besarnya cabang atau ranting yang akan kita cangkok harus sedang (kira-kira sebesar dua jari tangan orang dewasa), tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sehat dan mampu berproduksi.
    (2). Tanaman buah-buahan yang memiliki kualitas maupun kuanti¬tas buah yang baik.
    (3). Khusus untuk tanaman lengkeng yang akan kita usahakan dan kita kembangkan di dataran rendah dipilih dari jenis hermaprodit (jantan-betina).

    Mencangkok tanaman lengkeng sebenarnya agak sulit, sebab tidak setiap cangkokan dapat tumbuh akar-akarnya. Apabila berhasil pun masih membu tuhkan waktu yang lama untuk dipotong atau dipisahkan dari pohon induknya, yakni setelah sekitar umur 8 bulan. Pengembangan lengkeng dengan sistem cangkokan ini pada umumnya mempunyai kelemahan-kelemahan: (1) Sistem perakarannya agak dangkal, sehingga tanaman mudah roboh atau mati; (2) Penyakit yang terdapat pada tanaman induknya akan ikut terbawa; (3) Sifat-sifat jelek dari tanaman induknya akan terbawa juga.

    Penyambungan (enten dan okulasi)
    Pada dasarnya sistem penyambungan ini ialah menempelkan bagian tanaman yang terpilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua macam, yaitu:
    (1) Penyambungan pucuk (enten, grafting)
    Penyambungan pucuk (enten, grafting) ada tiga macam, yaitu: Enten celah (batang bawah dan atas sama besarnya); Enten pangkas atau kopulasi; dan Enten sisi (segi tiga);
    (2) Penyambungan mata (okulasi)
    Penyambungan mata (okulasi) ada tiga macam, yaitu: Okulasi biasa (segi empat); Okulasi “T”; dan Okulasi Forkert.
    Setelah 3 – 4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi ini dilakukan, dan bila telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambyngan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah bisa ditanam di lapangan.

    Penyusuan
    Pembiakan vegetatif dengan sistem penyusuan ini boleh dikatakan sebagai penemuan yang sangat gemilang terutama dalam usaha memperbanyak dan melestarikan tanaman buah- buahan. Sistem penyusuan ternyata lebih baik dibandingkan dengan sistem pencangkokan atau okulasi, sebab batang bawah (onder stam) dan batang atas (entrys) tidak harus mempunyai umur yang sama. Batang bawah dapat berupa tanaman muda yang berasal dari biji, sedang batang atas dapat diambil dari dahan atau ranting tanaman yang sudah berbuah. Pembiakan vegetatif yang paling aman pada tanaman lengkeng adalah dengan sistem penyusuan ini. Sebab pembiakan dengan sistem cangkok atau okulasi sangat sering mengalami kegagalan.
    Dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih sebesar jari tangan orang dewasa). Adapun cara melakukannya adalah seba¬gai berikut:
    (1) Pemilihan calon batang bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran yang sama.
    (2) Penyayatan pada batang bawah dan batang atas dengan bentuk dan ukuran yang sama sampai terkena sebagian dari kayunya.
    (3) Penmpelan batang bawah pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan ikatlah kuat-kuat dengan tali rafia.
    Setelah beberapa waktu kedua batang ini akan tumbuh bersama-sama seolah-olah batang bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam jangka waktu 3 – 4 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Bila batang atas tidak menjadi layu, penyusuan tersebut dapat dipastikan akan berhasil. Sesudah sekitar 4 bulan, batang bagian bawah (onder stam) dan batang bagian atas (entrys) tidak diperlukan lagi dan boleh dipotong serta dibuarkan utmbuh secara sempur¬na. Setelah tumbuh secara sempurna, bibit dari hasil penyu¬suan tesebut sudah dapat ditanam di lapangan.

    (d). Penanaman Bibit dan Pemeliharaannya

    Cara Penanaman
    Sebagian besar petani klengkeng sebelum penanaman bibit terlebih dahulu membuat lubang tanam. Jarak antara lubang satu dengan lainnya minimum 10 x 10 meter. Ukuran lubang tanam adalah 60 x 60 cm dan kedala¬mannya lebih kurang 60 cm. Kemudian lubang tanam tersebut diisi dengan tanah yang sudah dicampur dengan pupuk kandang atau kompos dengan perbandingan 3 (tanah): 1 (kompos) dan dibiarkan sampai beberapa waktu hingga keadaan tanah tersebut kering dan dingin (tidak ada fermentasi pupuk kandang atau kompos) (Afandie, 1993).
    Bibit lengkeng yang berasal dari biji yang siudah menca¬pai ketinggian antara 50 sampai 75 cm dapat ditanam pada lubang tanam dengan terlebih dahulu melepas keranjangnya. Lubang tanam yang telah disiapkan pada musim kemarau dapat langsung ditanami bibit lengkeng, sebab pada umumnya tanah yang kering tiadak terlalu asam. Sedang lubang tanam yang dibuat pada musim hujan harus menunggu sampai tanah yang digunakan untuk menimbun lubang tersebut kering dan dingin. Penanaman bibit lengkeng yang berasal dari cangkokan, enten, okulasi ataupun penyusuan sama seperti menanam bibit lengkeng yang berasal dari biji. Dalam hal ini pembatan lubang tanam harus lebih dalam, agar pembentukan sistem perkarannya lebih dalam dan luas.

    Pemeliharaan tanaman

    Pemupukan
    Pemupukan tanaman lengkeng dilakukan dua kali dalam satu tahun, yakni pada awal musim hujan dan menjelang musim kemar¬au. Pupuk yang digunakan adalah pupuk anorgnik Urea, TSP, KCl atau pupuk lengkap NPK. Dosis pemberian pupuk disesuaikan dengan umurnya atau besar dan tingginya tanaman. Tanaman yang berumur 4 sampai 5 tahun dengan ketinggian 3 sampai 4 meter dapat dipupuk sebanyak 1 sampai 2 kilogram NPK setiap kali pemupukan. Bagi tanaman lengkeng yang sudah berproduksi, pemupukan dengan NPK hendaknya lebih dari 2 kilogram setiap kali pemupukan. Cara pemupukan dilakukan dengan jalan membenamkan pupuk tersebut dalam tanah di sekitar tanaman, dengan jarak dari batang pokok selebar lingkar luar dari tajuk daun (proyeksi lingkar luar tajuk daun). Pemupukan dapat juga dilakukan lewat daun dengan pupuk daun yang mengandung kadar kalium rendah (misalnya gandasil D, Bayfolan dan sebagainya). Bagi tanaman yang sudah berproduksi dipakai pupuk daun yang men¬gandung kalium agak tinggi (misalnya Gandasil B).

    Pemangkasan
    Pemangkasan adalah pemotongan atau pengurangan sebagian dari cabang dan ranting. Pemangkasan cabang dan ranting ini bertujuan:
    (1) Untuk memperbanyak cabang/ranting, karena hilangnya dominasi titik tumbuh apikal;
    (2) Untuk memperpendek pohon, supaya mudah pemanenannya (dwarfing),
    (3) Untuk mempermuda tnaman yang telah tua,
    (4) Untuk mengatur keseimbangan karbohidrat dan nitrat pada tanaman agar dapat berbuah.
    Pemangkasan dapat dilakukan sambil memetik buah lengkeng dengan menggunakan gunting stek. Pada tanaman lengkeng yang buahnya sedikit harus selalu dilakukan pemang¬kasan, sebab dengan dilekukan pem,angkasan lengkeng akan cepat berbuah. Hal ini didasarkan pada perbandingan banyakn¬ya karbohidrat dalam daun dengan banyaknya protein dan nitrat yang dapat larut dalam tanaman. Jika karbohidratnya rendah dan kadarnya tinggi, tanaman secara vegetatif akan tumbuh terus denga subur tetapi tanpa berbuah. Jika karbohidratnya tinggi dan kadar nitratnya rendah, tanaman akan tumbuh kerdil dan buahnya sedikit. Tetapi jika karbohidratnya sedang dan kadar nitratnya tinggi, tanaman lekeng akan tumbuh sedang dan dapat berbuah lebat. Jika karbohidratnya rendah dan kadar nitratnya tinggi biasanya daun-daunnya tumbuh lebat tetapi tidak dapat berbunga dan berbuah. Tanaman lengkeng yang demikian perlu di¬pangkas secara teratur supaya karbohidratnya menjadi sedang dan kadar nitratnya bertambah karena adanya penyerapan pupuk nitrogen (N) dari dalam tanah oleh akar-akarnya. Dengan demikian tanaman lengkeng dapat berbunga lebat dan berbuah banyak.

    Pemotongan akar, pengeratan batang dan mengurangi daun
    Beberapa cara yang dilakukan petani klengkeng di Jabung dan Tumpang untuk merangsang pembungaan tanaman yang tidak berbunga, adalah: (1) Pemotongan akar, untuk mengurangi penyerapan larutan makanan terutama N dari dalam tanah; (2) Pengeratan (ringing) pada batang-batangnya, untuk menghambat pengangkutan (translokasi) karbohidrat; dan (3) Pemangkasan daun-daunnya agar tidak terjadi penimbunan karbohidrat (Afandie, 1993).

  15. malam buk…
    sebelumnya saya minta maaf ganggu aktivitas ibu sebentar.. saya mau girim tugas vegetatif tentang cangkok..

    cangkok jambu air ( Eugenia aquea Burm )

    I. Pendahulian

    1. SEJARAH SINGKAT
    Jambu air berasal dari daerah Indo Cina dan Indonesia, tersebar ke Malaysia dan pulau-pulau di Pasifik. Selama ini masih terkonsentrasi sebagai tanaman pekarangan untuk konsumsi keluarga. Buah Jambu air tidak hanya sekedar manis menyegarkan, tetapi memiliki keragaman dalam penampilan. Jambu air (Eugenia aquea Burm) dikategorikan salah satu jenis buah-buahan potensial yang belum banyak disentuh pembudidayannya untuk tujuan komersial.
    Sifatnya yang mudah busuk menjadi masalah penting yang perlu dipecahkan. Buahnya dapat dikatakan tidak berkulit, sehingga rusak fisik sedikit saja pada buah akan mempercepat busuk buah.
    Selain itu juga terdapat 2 jenis jambu air yang banyak ditanam, tetapi keduanya tidak begitu menyolok perbedaannya. Ke dua jenis tersebut adalah Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air besar). Varietas jambu air besar yakni: jambu Semarang, Madura, Lilin (super manis), Apel dan Cincalo (merah dan hijau/putih) dan Jenis-jenis jambu air lainnya adalah: Camplong (Bangkalan), Kancing, Mawar (jambu Keraton), Sukaluyu, Baron, Kaget, Rujak, Neem, Lonceng (super lebat), dan Manalagi (tanpa biji). Sedangkan varietas yang paling komersil adalah Cincalo dan Semarang, yang masing-masing terdiri dari 2 macam (merah dan putih).

    3. MANFAAT TANAMAN
    Pada umumnya jambu air dimakan segar, tetapi dapat juga dibuat puree, sirop, jeli, jam/berbentuk awetan lainnya. Selain sebagai “buah meja” jambu air juga telah menjadi santapan canggih dengan dibuat salada dan fruit coctail. Kandungan kimia yang penting dari jambu air adalah gula dan vitamin C. Buah jambu air masak yang manis rasanya, selain disajikan sebagai buah meja juga untuk rujak dan asinan. Kadang-kadang kulit batangnya dapat digunakan sebagai obat.

    4. SENTRA PENANAMAN
    Menurut data statistik dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Jawa Barat, Kabupaten Karawang, Tangerang, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Cirebon, Subang dan Bekasi termasuk 10 besar sentra penanaman pohon jambu. Jambu air Cincalo merah banyak
    terdapat di Karawang dan terkenal dengan jambu Bolang yang bila matang benar berwarna merah tua kebiruan dengan rasa manis-asam segar sedangkan Jambu air Semarang (merah dan putih) banyak terdapat di Indramayu.

    5. SYARAT TUMBUH
    5.1. Iklim
    1. Angin sangat berperan dalam pembudidayaan jambu air. Angin berfungsi dalam membantu penyerbukan pada bunga.
    2. Tanaman jambu air akan tumbuh baik di daerah yang curah hujannya rendah/kering sekitar 500–3.000 mm/tahun dan musim kemarau lebih dari 4 bulan. Dengan kondisi tersebut, maka jambu air akan memberikan kualitas buah yang baik dengan rasa lebih manis.
    3. Cahaya matahari berpengaruh terhadap kualitas buah yang akan dihasilkan. Intensitas cahaya matahari yang ideal dalam pertumbuhan jambu air adalah 40–80 %.
    4. Suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman jambu air adalah 18-28 derajat C.
    5. Kelembaban udara antara 50-80 %.

    5.2. Media Tanam
    1. Tanah yang cocok bagi tanaman jambu air adalah tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik.
    2. Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok sebagai media tanam jambu air adalah 5,5– 7,5.
    3. Kedalaman kandungan air yang ideal untuk tempat budidaya jambu air adalah 0- 50 cm; 50-150 cm dan 150-200 cm.
    4. Tanaman jambu air sangat cocok tumbuh pada tanah datar.

    5.3. Ketinggian Tempat
    Tanaman jambu air mempunyai daya adaptasi yang cukup besar di lingkungan tropis dari dataran rendah sampai tinggi yang mencapai 1.000 m dp

    II.metode pelaksanaan

    1) Persyaratan bahan induk
    Biji berasal dari varietas unggul, berumur lebih dari 15 tahun, produktif dan produksi stabil. Biji berasal dari buah masak pohon, yang besarnya normal dan mulus. Biji dikeringanginkan selama 1-3 hari di tempat teduh. Biji-biji yang memenuhi syarat adalah berukuran relatif besar, ukuran seragam, bernas dan tidak cacat, dianjurkan dalam meggunakan bibit jambu air hasil cangkokan/okulasi. Selain lebih mudah dilakukan, cara ini lebih cepat menghasilkan buah.

    2. cara kerja mencangkok
    Cabang yang akan dicangkok berada pada tanaman yang unggul dan produktif. Cabang yang dipilih tidak telalu tua/muda, berwarna hijau keabu-abuan/kecoklat-coklatan dengan diameter sedikitnya 1.5 cm. Setelah 2-2.5 bulan (sudah berakar), bibit segera dipotong dan ditanam
    dipolibag dengan media campuran : pupuk kandang 1 : 1. Bibit dipelihara selama 1 bulan

    • Keuntungan pembibitan dengan sistem cangkok:
    o Produksi dan kualitas buahnya akan persis sama dengan tanaman induknya.
    o Tanaman asal cangkok bisa ditanam pada tanah yang letak air tanahnya tinggi atau di pematang kolam ikan.

    • Kerugian pembibitan dengan sistem cangkok:
    o Pada musim kemarau panjang tanaman tidak tahan kering.
    o Tanaman mudah roboh bila ada angin kencang karena tidak berakar tunggang.
    o Pohon induk tajuknya menjadi rusak karena banyak cabang yang dipotong.
    o Dalam satu pohon induk kita hanya bisa mencangkok beberapa batang saja, sehingga perbanyakan tanaman dalam jumlah besar tidak bisa dilakukan dengan cara ini.

    • Media untuk mencangkok bisa menggunakan cocopit atau serbuk sabut kelapa ataupun
    cacahan sabut kelapa. Dapat pula digunakan campuran kompos/pupuk kandang dengan tanah (1:1). Kalau disekitar kebun ada tanaman bambu, maka tanah di bawah bambu yang telah bercampur seresah daun bambu dan sudah membusuk bisa juga digunakan untuk
    media cangkok.

    • Waktu pelaksanaan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, sehingga cangkokan tidak akan kekeringan. Selain itu dengan mencangkok di awal musim hujan akan tersedia waktu untuk menanam hasil cangkokan pada musim itu juga.

    III. kesimpulan

    Adapun kesimpulan yang dapat disimpulkan yaitu:
    - waktu pelaksanaan pencangkokan hendaknya pada musim hujan.
    - sebelum melakukan pencangkokan perlu kita mengetahui asal pohon induknya.

    IV. daftar pustaka
    1. Sarwono B. (1990). Jenis-jenis Jambu Air Top. Jakarta, Trubus.
    2. Guntur, Henny. (1985). Jambu Baron. Jakarta, Asri.
    3. Kanisius, Aksi agraris. (1980). Bertanam Pohon Buah-buahan I.
    4. Yayasan Kanisius, Yogyakarta.(1987). Bertanam Jambu Air. Jakarta, Trubus.

  16. met malam bu….. ini tugas vegetatif dari arief musvidi

    1. Jelaskan perbedaan Mound Layering, Trench Layering dan Blanching Process ?
    2. Apa perbedaan dari pemutihan dan etiolasi ?
    3. Mengapa dalam peroses pelaksanaan perundukan di perlukannya eliminasi cahaya ?

    jawaban :
    1. mound layering (Perundukan Gundukan) adalah perundukan dengan melibatkan pemotongan tanaman sampai ke batas tanah selama musim dorman dan menggundukan tanah atau media lain di sekitar dasar dari pucuk yang sedang berkembang untuk memacu pengakaran terbentuk pada pucuk – pucuk tersebut. cara ini biasa digunakan pada tanaman yang memiliki batang yang keras, misalnya apel.
    Gambar :

    Trench Layering (perundukan parit) adalah perundukan cabang tanaman dengan posisi horizontal di dalam dasar parit dan di timbun tanah di sekitar pucuk – pucuk baru pada saat mereka tumbuh sehingga dasar pucuk teretiolasi. cara ini biasa digunakan pada tanaman yang memiliki batang merambat. misalnya, anggur.
    Gambar :

    Blanching prosses adalah suatu proses/ akibat dari perundukan di mana karena pucuk baru yang baru berkembang pada saat mereka tumbuh di tutup sehingga bagian dari pucuk yang dirundukan tidak terekspos cahaya secara langsung.

    2. Pemutihan berbeda dari etiolasi, pemutiha pucuk di hasilkan di dalam kondisi gelap sama sekali dan tidak berdaun, karena tidak diberikan cahaya. sedangkan Etiolasi merupakan pertumbuhan tanaman yang sangat cepat di tempat yang gelap. Etiolasi merupakan salah satu gangguan pertumbuhan pada tanaman yang kekurangan cahaya matahari.
    Gambar :

    3. dalam pelaksanan perundukan di perlukannya eliminasi cahaya karena dengan adanya eliminasi cahaya ini akan mengakibatkan penghentian translokasi ke bawah dari bahan – bahan organik, karbohidrat, auksin dan faktor pertumbuhan lainnya dari daun ke ujung pucuk yang sedang tumbuh,bahan – bahan ini berakumulasi di dekat titik perlakuan dan pengakaran terjadi di bagian ini.

  17. Nama : Ahmad Parlaongan
    Nim : D1A107006

    Kegunaan kelat (chelate) dalam unsur hara mikro

    Kelat berasal dari bahasa yunani (greek) yang berarti kuku atau mencekam. Kelat adalah senyawa organic larut air yang dapat mengikat kation logam. Kation sangat lambat dipertukarkan dengan kation lain sebab kation sangat sedikit diionkan dari kelat organic.

    Keuntungan dari unsure hara mikro yang dapat diikat kelat dapat dijelaskan dengan penggelatan besi. Besi dari bentuk ferrosulfat larut dalam air dan segera tersedia untuk tanaman. Sebagai ferro sulfat, besi dapt larut dan terjadi ion. Ion ferro segera dioksidasi dan mengendap sebagai ferri oksidasi atau persenyawaan lain yang tidak dapat larut. Sebaliknya, kelat besi juga larut dalam air, tetapi tidak menjadi ion. Besi terikat dalam bentuk larut dan siap tersedia untuk diabsobsi akar. Salah satu senyawa kelat yang terkenal yaitu etylen diamine tetraacetic acid (EDTA). Ion hydrogen (H+) dari melekol EDTA dapat diganti dengan kation logam. Penggantian semacam itu dilambangkan dengan suatu awalan yang menunjukan unsure yang dijadikan kelat seperti Fe-EDTA atau Zn EDTA (zinc etylen diamine tetraacetic acid) C2H2N2( CH2OO)4 Zn.

    Fe EDTA biasanya lebih baik digunakan untuk tanah daripada sebagai semprotan daun sebab akan merusak daun. Penggunaan Fe EDTA pada tanah sejumlah 10 -20 g setiap pohon efektif menyembuhkan klorosis pasda tanaman jeruk.

    Beberapa peneliti mengunakan jejek radioaktif menunjukan bahwa seluruh melekol Fe EDTA diabsosi akar tanaman. Namum penelitian telah menunjukan bahwa kation logam kadang terpisah dari molekul sebelum logam terabsorsi. Ada sedikit kecenderungan kelat telah terjadi pengionan sehingga membuat pemisahan logam

    Fe EDTA didalam tanah tahan terhadap serangan jasad renik dan hidrolosis. Sekali pemakaian dapat mencegah klosiss selama 2 tahun. Selama waktu ini beberapa persenyawaan diabsobsi akar tanaman.beberapa besi mungkin diganti dengan kation yang lain, dan kadang EDTA diabsorsi oleh tanah liat. Beberapa senyawa hilang karena pencucican sebanyak separti yang larut daalam air.

    Stabilitas Fe EDTA dan keefektivitasannya dalam mengendalikan klorosis lebih besar dalam tanah asam daripada dalam tanah berkapur. Namun bahan yang lain yaitu hydroksi etylen diamine tetraacetic acid (EDTA-OH, lebih stabil didalam tanah berkapur. Beberapa kelat yang lain juga tersedia dan menyusuaikan yang coock. Beberapa kelat dapat terjadi secara alami ditanah dengan komponenen organic yang bergabung dengan kation logam.

    Kelat lebih banyak digunakan dengan besi dari pada unsure hara mikro lainya. Namun, tembaga, mangan serta seng dapat juga dijadikan kelat. Kelat –kelat ini kurang digunakan sebab semprotan daun dari unsure – unsure ini lebih muda dan biasanya melekol sebelumlogam diabsorbsi. Dada sedikit kecenderungan bahwa kelat telah terjadi pengionan sebelum membuat pemisahan logam.

    cukup untuk memenuhi keperluan tanaman. Besi jugadapat digunakan untuk beberapa tanaman sebagia semperotan daun dari ferro sulfat. Semprotan semacam ini dianggap kurang mahal dsari pada penggunaan tanah Fe EDTA oh untuk kedelai ysang tumbuh pada tanah berkapur.
    Kalsium dan magnesium dapat juga dijadikan kelat, tapi kedua unsure hara tersebut tidak praktis dalam memberiah unsure hara makro. Ongkos terlalu besar dan penggunaan senyawa anorganic dari unsure – unsure ini lebih cocok.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa EDTA merupaka senyawa dari kelat. Dan senyawa kelat bukaan hanya terdapat pada unsure hara mikro, tapi juga makro.

  18. KOMENTAR TUGAS ASIMILASI

    Nirat tmbuhan mengasimilasi nitrat yang diabsorsi menjadi senyawa nitrogen organic. reaksi pertama adalah eduksi nitrat menjadi nitrit dalam sitosel dalam enzim nitrat reduktase.

    NO3- + NADPH + H+ + 2e NO2- + NADP+ H2O

    NO2- adalah ion sangat reaktif dan toksik. Tumbuhan denagn seca cep[at memindah kan nitrit dari sitosol ke kloroplasm ( daun ) atau akar ( plastida)untuk kemudian direduksi menjadi anomium oleh enzim nitrat reduktase.

    NO2- + 6 Fdoksidase + H + NH4+ + 6 Fd oksidase NAD(P) + H20

    Kebanyakan jenis tanaman lebih mudah merngasimilasi nitrat, nitrit, dan ammonium. Sel tumbuhan menghindari toksisitas yang dihasilkan dari asimiolasi no3+ atau fotorespirasi dengan cara mengubah secara cepat menjadi asam amino. Oksidase glutamine synyhese ( gs) ammonium ditambah glutamate untuk membetuk glutamine.

    Glutamate + NH4+ + ATP glutamine + ADP +Pi

    Pengikatan konsenterasi glutamine akan merangsang aktivitas enzim glutamine synthesa ( glutamine ;2 oxoglutamete aminotranferas (GOGAT). Tumbuhan mempunyai 2 GOGAT( satu menerima electron dari NADH dan dari Fd (ferrodioksi).
    Apa hubungan asimilasi N terhadap asimilsasi yang lain?
    sebagai regulator terhadap reaksi biokimia didalam tanaman yaitu respirasi
    apa hubungan asimilasi terhadap fiksasi
    bISA menyebabkan defesiensi dan membatu kegiatan biokimia dalam tanaman

  19. Nama : Ahmad Parlaongan
    Nim : D1A107006
    Proses reaksi Asetyl serin menghasilkan sistein dan asetat. Proses reaki ini membutuhkan 2 equivalen, yang berasal dari ferredoksin. Sketsa siklus dari keseluluhan reduksi dapat diambarkan dengan persamaan :
    H2SO4 + ATP + 8 H + + asetyl serin — sistein + asetat +3H2O +AMP+ +p ~p

    COOH

    COOH H2N CH

    H2N—CN CH2

    CH2—S – CH2

    cystein phosphohomoserine
    Pi

    COOH

    COOH CH H2N

    H2N CH CH2

    CH S CH2 cystathionine

    HO H

    serine COOH COOH COOH

    H2N CH H2N CH H2N-CH

    CH2 OH CH2 CH2

    COOH CH2 S CH2 S CH3
    homocysteine methionine
    C=O + NH3 CH3—HONOR
    H honor
    CH3

    pyrupate

    KETERANGAN GAMBAR DIATAS :
    Reduksi sulfat teradi diakar dan dibatang tumbuhan tetapi sebagian besar belerang diangkut melalui xilem kedaun melalui dalam bentuks04 non reduktase. sebagain diangkkut kemabali akar dan sebagian lainya lawat floem .Sulfida (bebas atau terikat ) yang dihasilakan oleh atp tedak tertimbun karena diuba secara cepat menjadi senyawa belerang organik yaitu ; cyeteine dan metoionine. Sebagian besar cysteine bergabun pada ko- enzim pada siklus kreb.

    reaksi pertama,di katalisis cycteine sintesa meliputi pergantian gugus di O cysteine dangan sulfida, dan reaksi cystathionine dikatalisis oleh stationine sintesa melepaskan fosfat dari O phosphohomoserine dan menyumabangkan atom belerang disistem kegugusan ch2 dari residu homoserine. Reaksi kedua, dikatalisis oleh sistationase, enzim yang menghidrolisis sisationin antara S dan karbon ditunjukan oleh garis arrow ( garis yang membelah antara C dan S). pada reaksi ketiga, piruvate dan Nh3 dilepasakan menghasilkan bagian dari molekul dari cysteine (homocysteine).pada reaksi ke- 4, homocysteine diubah oleh mentionine sintesa menjadi mentionine dengan menerima gugus metil dan gugus hidrogen

  20. Selamat malam Ibu…
    Saya Pak Ono seorang Durian Hobbiest tetapi Saya tidak pernah mengecapi sekolah apalagi Universiatas Pertanian, namun Saya mau bertanya kepada Ibu yang bijak sebagai berikut :

    1. Apakah perbanyakan vegetatif durian dengan cara stek daun durian dapat dilakukan?
    2. Kalau bisa :
    a. Bagaimana cara melakukannya?
    b. Hormon apa saja yang diperlukan untuk proses tsb?
    c. Media tanam apa yang digunakan untuk proses tsb?
    d. Tahapan-tahapan apa saja yang dilakukan untuk proses tsb?
    Terimaksih kepada Ibu yang telah membuat Blog yang akan sangat berguna mewujutkan GO GREEN.

    • yth pak Ono, maaf baru balas,
      1, durian tidak dapat distek daunnya, perbanyakan durian dengan okulasi.
      2. Stek daun hanya dapat dilakukan dan berhasil dengan baik pada beberapa tanaman bunga-bungaan.
      terima kasih pak atas responnya

  21. hallo hery, silakan baca blog ibu, udah program pembiakan??/

  22. sabar dong jumlah kalian kan 18 orang, belom 50 persen, bilang kawan yang lain, untuk julianti beri komentar materinya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s